Minggu, 21 Maret 2010

Contoh karya tulis ilmiah (KTI) versi AKFAT PARE

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn.”M”DENGAN DIAGNOSA “PRE DAN POST OPERASI HERNIA SCROTALIS” DI
UNIT PERAWATAN MARIA KAMAR I2
RUMAH SAKIT FATIMA
KOTA PAREPARE

Tanggal 21 – 23 Juli 2009





KARYA TULIS ILMIAH
Disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan program Diploma III Akademi Keperawatan Fatima Parepare


Oleh :
A S N A W A T I
NIM : 06380



AKADEMI KEPERAWATAN FATIMA PAREPARE
TAHUN 2009




HALAMAN PERSETUJUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn.”M” DENGAN DIAGNOSA
“PRE DAN POST OPERASI HERNIA SCROTALIS” DI UNIT PERAWATAN MARIA KAMAR I2 RUMAH SAKIT FATIMA KOTA PAREPARE
TANGGAL 21 – 23 JULI 2009


Karya tulis ilmiah ini telah memenuhi persyaratan dan disetujui untuk dipertahankan dalam ujian sidang program Diploma III Keperawatan Akademi Keperawatan Fatima Parepare
Parepare, Agustus 2009


Mengetahui :


Pembimbing I Pembimbing II


( Petrus Taliabo S.Kep )



( Ners. Agustina B. S.Kep )



HALAMAN PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn.”M” DENGAN DIAGNOSA
“PRE DAN POST OPERASI HERNIA SCROTALIS” DI UNIT PERAWATAN MARIA KAMAR I2 RUMAH SAKIT FATIMA KOTA PAREPARE
TANGGAL 21 – 23 JULI 2009
Telah dipertanggung jawabkan di hadapan Tim penguji dalam ujian sidang yang dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal :
Pukul :
Tempat : Kampus Akademi Keperawatan Fatima Parepare
Tim penguji
1. Andreas Tena, S.Kep ( )

2. Petrus Taliabo S.Kep ( )

Parepare, Agustus 2009
Mengetahui
Direktris Akademi Keperawatan Fatima Parepare


Ners. Agustina B. S.Kep
NIK : 80101



RIWAYAT HIDUP




A. Identitas
Nama : Asnawati
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat / tanggal lahir : Pinrang, 1 Juli 1988
Agama : Islam
Suku / bangsa : Bugis / Indonesia
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Kec. Watang Sawitto Kab. Pinrang
No. HP : 085 255 492 691

B. Pendidikan
1. Tamat SD No. 161 Pinrang, Tahun 2000
2. Tamat SLTP Negeri 5 Pinrang, Tahun 2003
3. Tamat SMA Negeri 1 Pinrang, Tahun 2006
4. Akademi Keperawatan Fatima Parepare, Tahun 2009


KATA PENGANTAR

Tiada kata yang patut terucap dan tertulis selain panjatan rasa syukur kepeda Tuhan Yang Maha Esa, berkat ridho dan hidaya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn.”M” dengan Diagnosa Hernia Scrotalis di Unit Perawatan Maria Rumah Sakit Fatima Parepare” tepat pada waktunya.
Karya tulis ilmiah ini disusun oleh penulis untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan pada Program Diploma III Keperawatan di Akademi Keperawatan Fatiam Parepare.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini sangat jauh dari kesempurnaan khususnya dalam penyusunan materi dimana keterbatasan dalam sumber kepustakaan, maupun dalam pengumpulan data, tetapi berkat bantuan, bimbingan dan petunjuk secara moril sehingga penulisan karya tulis ini dapat terwujud.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan karya tulis ini khususnya kepada :
1. Ners. Agustina B. S.Kep, selaku DirektrisAkademi Keperawatan Patima Praepare, sekaligus sebagai pembimbing II penyusunan karya tulis ilmiah.
2. Drg. Merly Gosal, selaku Direktur Rumah Sakit Fatima Parepare.
3. Romauli Hutapea AMK, selaku kepala bagian keperawatan Rumah Sakit Fatima Parepare.
4. Agus Kamasi AMK selaku kepala unit keperawatan Maria Rumah Sakit Fatima Parepare.
5. Segenap karyawati unit perawatan Maria Rumah Sakit Fatima Parepare.
6. Petrus Taliabo, S.Kep, selaku pembimbing dan penguji II dalam ujian karya tulis ilmiah ini.
7. Andreas Tena, S.Kep, selaku penguji I karya tulis ilmiah ini.
8. Segenap staf Akademi Keperawatan Fatima Parepare.
9. Kedua orang tua tercinta dan sanak saudara, serta teman – teman atas dorongan doa dan bantuan yang telah diberikan selama penulis menempuh pendidikan sampai selesai penyusunan karya tulis ini.
Akhir kata, dengan segala kerendahan hati, penulis berharap agar tulisan ini menjadi pedoman Asuhan Keperawatan pada kasus –kasus yang sama dan penulis tetap berharap saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca. Kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa dan segala kekurangan dimiliki oleh manusia.
Parepare 28 juli 2009

Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN i
HALAMAN PENGESAHAN ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR TABEL x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Batasan masalah
C. Tujuan Penulisan 2
D. Metode Penulisan 3
E. Manfaat Penulisan 4
F. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Medik
1. Etiologi …………………………………………………………….
2. Bagian dan Klasifikasi Anemia ………………………………..
3. Anatomi Fisiologi …………………………………………………
4. Patofisiologi ………………………………………………………
5. Gambaran Klinik …………………………………………………
6. Komplikasi ………………………………………………………..
7. Test Diagnostik …………………………………………………..
8. Penatalaksanaan …………………………………………………
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
2. Diagnosa Keperawatan
3. Perencanaan
4. Implementasi
5. Evaluasi
C. Patoflow diagram
BAB III TINJAUAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
B. Klasifikasi Data
C. Analisa Data
D. Prioritas Masalah
E. Rencana Asuhan Keperawatan
F. Implementasi Keperawatan
G. Evaluasi
BAB IV PEMBAHASAN KASUS
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
SATUAN ACARA PANYULUHAN
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR I : Anatomi Hernia
GAMBAR II : Patoflowdiagram
GAMBAR III : Genogram

DAFRAR TABEL

TABEL I : Kriteria IMT
TABEL II : Analisa Data
TABEL III : Asuhan Keperawatan
TABEL IV : Implementasi
TANEL V : Evaluasi



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dengan pesat, sejalan dengan hal tersebut, maka permasalahan manusiapun semakin kompleks, salah satunya yaitu kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak. Hal tersebut menuntut manusia untuk berusaha memenuhi kabutuhannya dengan usaha yang ekstra, tentunya itu mempengaruhi pola hidup dan kesehatannya yang dapat menyebabkan kerja tubuh yang berat yang dapat menimbulkan kelelahan dan kelemahan dari berbagai organ tubuh.
Adapun hubungannya dengan penyakit hernia yairu dengan bekerja berat untuk memenuhi kebutuhan seperti mengangkat benda berat, kebiasaan mengkonsumsi makanan kurang serat, yang dapat menyebabkan konstipasi sehingga mendorong mengejan saat defekasi. Selain itu, batuk, kehamilan, dapat juga berpengaruh dalam meningkatkan tekanan intraabdominal sehingga terjadi kelemahan otot – otot abdomen yang dapat menimbulkan terjadinya hernia inguinalis, yang dapat menjadi hernia scrotalis bila kantong hernia inguinalis mencapai scrotum.
Adapun insiden hernia yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2007 sekitar 700.000 operasi hernia yang dilakukan tiap tahunnya. Indirek inguinalis hernia di sisi kanan, adalah tipe hernia yang paling banyak dijumpai pria dan wanita, sekitar 25% pria dan 2% wanita mengalami hernia inguinalis. Sedangkan hernia femoralis hanya dijumpai pada 3% kasus. Insiden hernia strangulata dan incarserata pada anak – anak 10 – 20%, sebanyak 50% diantaranya terjadi pada anak – anak usia kurang dari enam bulan, sekitar 10 – 30% anak –anak memiliki hernia dinding perut, sebagian besar hernia tipe ini menutup saat berusia satu tahun. Di Indonesia tahun 2007 sekitar 60% hernia terjadi di sebelah kanan, 30% di sebelah kiri dan 10% di kedua sisi.
Di Rumah Sakit Fatima jumlah kasus hernia yaitu pada tahun 2007 terdapat 22 kasus hernia, tahun 2008 sebanyak 28 kasus dan tahun 2009 dalam satu semester terdapat empat kasus hernia. Dari jumlah kasus tersebut ditemukan 45 kasus hernia yang terjadi pada pria dan 10 kasus pada wanita untuk semua umur.
Melihat dari insiden yang ditemukan, penulis memperhatikan kasus – kasus yang ada oleh karena itu, melalui asuhan keperawatan ini akan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik pada pasien dengan penyakit hernia, penulis akan berusaha memberikan penyuluhan dan terapi hernia dengan berbagai referensi dan literatur yang selengkap mungkin dan informasi yang terbaru.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan hernia scrotalis.
2. Tujuan khusus
a. Mendapatkan gambaran tentang :
1). Pengkajian
2). Perencanaan
3). Pelaksanaan
4). Evaluasi
b. Mengetahui tentang proses penyakit hernia scrotalis serta menerapkan asuhan keperawatan.
c. Memperoleh pengalaman yang nyata dalam merawat pasien dengan hernia scrotalis.
d. Memenuhi persyaratan menyelesaikan program D III Keperawatan Fatima Parepare.

C. Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang digunakan yaitu :
1. Study kepustakaan
Dengan mempelajari buku – buku tentang penyakit hernia scrotalis di perpustakaan dan internet.
2. Study kasus
Penulis memberi asuhan keperawatan secara langsung kepada pasien dengan hernia scrotalis di ruang perawatan Maria Kamar I2 Rumah Sakit Fatima Parepare dengan menggunakan beberapa tahapan yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, untuk mencapai tahapan tersebut di atas, dalam pengumpulan data penulis menggunakan beberapa cara yaitu :
a. Interview
Mengadakan wawancara dengan melibatkan pihak yang berkompeten seperti ; pasien, keluarga pasien dan tim kesehatan lainnya untuk memperoleh data yang diperlukan.
b. Observasi
Selain menggunakan wawancara, penulis juga memakai cara pengamatan langsung segala kegiatan yang dilakukan di ruangan serta mengetahui keadaan klien selama perawatan. Pemeriksaan fisik secara umum yaitu : pengkajian secara menyeluruh tentang semua system tubuh yang meliputi pemeriksaan secara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
c. Metode diskusi
Mengadakan diskusi dengan dosen pembimbing dan CI ruangan dalam hal asuhan keperawatan pada kasus hernia scrotalis.
d. Study dokumentasi
Mempelajari status pasien dan catatan medik atau study dokumentasi.

D. Manfaat Penulisan
1. Penulis.
Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman serta menerapkan ilmu atau teori yang didapat selama pendidikan.
2. Rumah sakit
Dapat menjadi masukan bagi perawat yang ada di rumah sakit sebagai panduan untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan pada pasien khususnya dengan hernia scrotalis.

E. Sistematiak Penulisan
Dalam penulisan, sistematika penulisan yang digunakan dalam karya tulis ini adalah :
1. BAB I : Pendahuluan yang terdiri atas : Latar belakang, Tujuan Penulisan, Metode penulisan dan Sistematika penulisan.
2. BAB II : Landasan Teoritis yang terdiri dari Konsep Medik dan Konsep Dasar Keperawatan. Dalam Konsep Medik diuraikan : Definisi, Etiologi, Klasifikasi Hernia, Anatomi dan Fisiologi, Patifisiologi, Manifestasi Klinik, Komplikasi, Test Diagnostik dan Penatalaksanaan. Dan dalam Konsep Dasar Keperawatan diuraikan : Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervensi Keperawatan, Implementasi dan evaluasi.
3. BAB II : Menguraikan tentang tinjauan kasus.
4. BAB IV : Menguraikan pembahasan kasus
5. BAB V : Menguraikan mengenai kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP MEDIK
1. Definisi
a. Hernia adalah protusio (penonjolan) abnormal suatu organ atau bagian suatu organ melalui lubang (ofertura) pada struktur di sekitarnya. Umumnya protusio organ abdominal melalui celah dari dinding abdomen (Sue Hinehliff, 1999)
b. Hernia adalah penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah (defek) pada dinding rongga itu. Dimana dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin (Rizal, 2007).
c. Hernia adalah protusi / penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian yang lemah dari dinding rongga yang bersangkutan (Romi, 2006)
d. Hernia adalah tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dinding rongga diamana rongga tersebut harusnya berada di dalam keadaan normal tertutup (Nanda, 2009).
e. Hernia adalah keluarnya isi rongga tubuh atau abdomen lewat suatu celah pada dinding yang mengelilinginya (Khadir, 2009).

2. Etiologi
a. Anomali kongenital
b. Melemahnya otot – otot abdomen
c. Tekanan intraabdomen seperti :
1) Mengejan saat defekasi dan miksi.
2) Batuk menahun.
d. Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya hernia adalah :
1) Hernia inguinalis indirect, terjadi pada suatu kantong kongenital sisa dan prosesus vaginalis.
2) Kerja otot yang terlalu kuat.
3) Mengangkat beban yang berat
4) Batuk kronik
5) Mengejan sewaktu miksi dan defekasi
Peregangan otot abdomen karena meningkatnya tekanan intra abdomen seperti obesitas dan kehamilan (Samsudin, 2006).
e. Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya hernia adalah lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada sejak lahir atau didapat kemudian dalam hidup karena :
1) Akibat dari pembedahan sebelumnya.
2) Kongenital.
3) Hernia kongenital sempurna.
Bayi sudah menderita hernia karena adanya defek pada tempat – tempat tertentu.
4) Hernia kongenital tidak sempurna
Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat- tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0 – 1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk, menangis).
5) Aquisal adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain :
a) Tekanan intraabdominal yang tinggi.
Banyak yang dialami oleh pasien yang sering mengejan baik saat BAB maupun BAK.
b) Konstitusi tubuh
Orang kurus cenderung terkena hernia karena jaringan ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terjadi hernia karena banyaknya jaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong pada LMR.
c) Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk.
d) Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intra abdomen.
e) Sikatrik
f) Penyakit yang melemahkan dinding perut..

3. Bagian dan klasifikasi hernia
a. Bagian – bagian hernia
1) Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia insisional, hernia adipose, hernia intertitialis.
2) Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia , misalnya usus,ovarium dan jaringan penyangga usus (omentum).
3) Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia.
4) Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.
5) Locus minoris resistance (LMR).
b. Klasifikasi hernia
1) Menurut lokasinya
a) Hernia inguinalis
Hernia yang terjadi dilipatan paha , jenis ini merupakan yang tersering dan dikenal dengan istilah turun berok atau buntu.
b) Hernia umbilikus adalah di pusat
c) Hernia femoralis adalah di paha
2) Menurut isinya
a) Hernia usus halus
b) Hernia omentum
3) Menurut penyebabnya
a) Hernia kongenital
b) Hernia traumatika
c) Hernia insisional adalah akibat pembedahan sebelumnya
4) Menurut terlihat dan tidaknya
a) Hernia externs
Misalnya : hernia inguinalis, scrotalis dan sebagainya.
b) Hernia interns
Misalnya : hernia diafragmatika, hernia foramen winslowi, hernia doturaforia.
5) Menurut keadaannya
a) Hernia incarserata
Bila isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase atau gangguan vaskularisasi.
b) Hernia strangulata
Jika bagian usus yang mengalami hernia terpuntir atau membengkak dapat mengganggu aliran darah normal dan pergerakan otot serta dapat menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan jaringan.
6) Menurut nama penemunya
a) Hernia Petit yaitu hernia di daerah hernia lumbosakral.
b) Hernia Spigelli yaitu hernia yang terjadi pada linea semisirkulasi di atas penyilangan vas epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominalis bagian lateral.
c) Hernia Richter yaitu hernia dimana sebagian dinding usus yang terjepit.
7) Menurut sifatnya
a) Hernia reponibel adalah bila isis hernia dapat keluar masuk , isi hernia keluar bila berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk., tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
b) Hernia irreponibel adalah bila isis kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga.
8) Jenis hernia lainnya
a) Hernia pantolan adalah hernia inguinalis dan hernia femoralis yang terjadi pada paha satu sisi dan dibatasi oleh fasa epigastrika inferior.
b) Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke skrotum secara lengkap.
c) Hernia litter adalah herna yang isinya adalah divertikulum meckeli.
b. Fisiologi
Struktur reproduksi pria terdiri dari penis, testis dalam kantong scrotum, system duktus yang terdiri dari epididimis, vas deferens, duktus ejakulatorius dan uretra, dan glandula asesoria yang terdiri dari vesikula seminalis kelenjar prostat dan kelenjar bulbouretralis (Pichi, 1998)
Testis adalah organ genitalia yang terletak di scrotum, ukuran testis pada orang dewasa 4 x 3 x 2,5 cm, dengan volume 15 – 25 ml, uvoid. Kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat pada testis, di luar tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viselaris dan parientalis, serta tunika dartos. Otot kremaster yang berada di sekitar testis memungkinkan testis dapat digerakkan mendekati rongga abdomen untuk mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil. Testis bagian dalam terbagi atas lobulus yang berjumlah + 250 lobuli.
Tiap lobulus terdiri dari tubulus seminiferus, sel –sel sertoli dan sel – sel leyding. Produksi sperma atau spermartogenesis dan sel – sel, sedang diantara tubuli seminiferus terdapat sel – sel leyding. Sel – sel spermatogonium pada proris menjadi sel spermatozoa. Sel – sel sertoli berfungsi memberi makanan pada bakal sperma, sedangkan sel – sel pada leyding atau disebut sel – sel interstitial testis berfungsi dalam menghasilkan hormon testosteron.
Pada bagian posterior tiap- tiap testis terdapat duktus melingkar yang disebut epididimis. Sel- sel spermatozoa yang di produksi di tubuli seminifer, setelah matur (dewasa) sel- sel spermatozoa bersama – sama dengan getah dari epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ampula vas deferens, sel – sel itu setelah bercampur dengan cairan – cairan epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, serta cairan prostat membentuk cairan semen atau mani.
Vas deferens adalah duktus ekskritorius testis yang membentang hingga ejakulatorius. Duktus ejakulatorius selanjutnya bergabung dengan uretra yang merupakan saluran keluar bersama baik untuk sperma atau kemih.
Testis mendapatkan vasokan darah dari beberapa cabang arteri yaitu :
1. Arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta.
2. arteri deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior.
3. Arteri kemastika yang merupakan cabang dari arteri epigastrika.
Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus pompiniformis.pleksus ini pada beberapa orang mengalami dilatasi dan dikenal sebagai varikokel.

5. Patofisiologi
Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus pada bulan ke-delapan dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis ini akan menarik peritoneum ke daerah skrotum sehingga terjadi tonjolan perioneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritoniae.Bila bayi lahir umumnya prosesus ini mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut.Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka.Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan.Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel, bila kanal terbuka terus, karena prosesus tidak terobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis congenital, pada orang tua kanalis tersebut telah menutup namun karena merupakan lokus minor resistence, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra abdominal meningkat, kanalis tersebut dapat terbuka kembali dan hernia inguinalis lateral akuista keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal adalah kehamilan,batuk kronis, pekerjaan mengangkat beban berat, mengejan saat defekasi, miksi misalnya pada hipertropi prostat.
Apabila isi hernia keluar melalui rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior kemudian hernia masuk ke dalam hernia kanalis inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus, dan bila berlanjut tonjolan akan sampai ke skrotum yang disebut herna skrotalis (Samsuddin 2006)
Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi karena usia lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi
Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia semakin semakin sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus.Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis.Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah dan konstipasi.Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaam akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis, juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan karena ususnya berputar.Bila isi perut terjepit dapat terjdi shock, demam, asidosis metabolik dan abses.

6. Manifestasi klinis
Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha, benjolan tersebut biasa mengecil dan menghilang pada saat istiahat dan bila menangis, mengejan, mengangkat beban berat atau dalam posisi berdiri dapat timbul kembali, bila terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri, keadaan umum biasanya baik.Pada inspeksi ditemukan asimetris pada kedua sisi lipat paha, skrotum atau pada labia dalam posisi berdiri dan berbaring pasien diminta untuk mengejan dan menutup mulut dalam keadaan berdiri.Palpasi dilakukan dalam keadaan ada benjolan hernia, dirasa konsistensinya dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat direposisi dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak-anak kadang cincin hernia dapat diraba berupa annulus inguinalis yang melebar (Samsuddin,2006).
Keluhan yang dirasakan dapat terjadi dari yang ringan hingga berat karena pada dasarnya hernia merupakan isi rongga perut yang keluar melalui suatu celah dinding perut, keluhan berat yang timbul disebabkan karena terjadinya penyempitan isi perut tersebut pada celah yang dilaluinya.
Jika masih ringan, penonjolan yang ada dapat hilang timbul.Benjolan yang ada tidak dirasakan nyeri atau hanya sedikit nyeri dan timbul jika kita mengedan, batuk, mengangkat beban berat.Biasa tonjolan dapat hilang jika kita istirahat.
Jika pada benjolan yang ada dirasakan nyari hebat ,maka perlu dipikirkan adanya penyempitan isi perut.Biasanya jenis hernia inguinalis yang lateralis lebih memberikan keluhan nyeri hebat yang dibandingkan dengan jenis hernia inguinalis medialis.Terkadang benjolan yang ada masih dapat dimasukkan kedalam rongga perut dengan tangan kita sendiri ,yang berarti menandakan bahwa penyempitan yang terjadi belum terlalu parah.Namun, jika penyempitan yang terjadi sudah parah, benjolan tidak dapat dimasukkan kembali dan nyeri yang dirasakan sangatlah hebat, nyeri dapat disertai mual dan muntah.Hal ini dapat terjadi jika sudah terjadi kematian jaringan isi perut yang terjepit tadi.Hernia strangulata merupakan suatu keadaan yang gawat, jadi perlu segerah dibawah kedokter untuk mendapatkan pertolongan.

7. Komplikasi
Komplikasi hernia tengantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia antara lain:
a. Obstruksi usus sederhana
b. Perforasi
c. Abses lokal, fistel atau peritonitis
d. Syock
e. Asidosis metabolik
8. Test diagnostic
a. Rongent
b. USG
c. Sinar X abdomen

9. Penatalaksanaan
Penanganan biasa dengan pengobatan konservatif, maupun tindakan definitive berupa operasi.Tindakan konrsevatif antara lain:
a. Tindakan konservatif terbatas pada tindakan melalui reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi, jika reposisi tidak berhasil dalam waktu 6 jam harus dilakukan operasi segera .
b. Pada anak-anak dengan hernia indirect irreponibel diberi terapi konservatif dengan :
1) Obat penenang
2) Posisi trendelemburg
3) Kompres es
4) Tindakan operatif :
Pinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi, hernioplasti dan herniografi :
a) Herniotomi : Pembebasan kantong hernia sampai pada lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan.
b) Hernioplasti : memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding kanalis inguinalis.
c) Herniografi : membuat plasty di abdomen sehingga LMR(locus minorus resistem).

5) Penanganan pasca operasi
a) Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencengah terjadinya hematoma.
b) Pasien dibaringkan dengan posisi semi fowler agar dinding abdmen ditegang.
c) Diusahakan agar penderita tidak menangis serta mengejan.
d) Dalam waktu satu bulan jangan mengangkat benda yang berat.
e) Selama waktu tiga bulan tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat menaikkan tekanan intraabdomen.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
Proses keperawatan merupakan suatu tindakan yang sistematis untuk manentukan masalah pasien, membuat perencanaan dan cara mengatasiya, melaksanakan rencana serta mengevaluasi keberhasilan secara efektif
Adapun langkah-langkah proses keperawatan adalah :
1. Pengkajian keperawatan
Pengkajian kaperawatan merupakan tahap awal dari keperawatan keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada kecepatan dan ketelitian dalam mengenal masalah pasien sehingga lebih mengarah ketindakan keperawatan.Langkah-langkah pengkajian yaitu:

a. Pengumpulan data
Merupakan pengumpulan informasi yang sistematis tentang klien termasuk kekuatan dan kelemahan pasien yang dikumpulkan dari pasien sendiri, keluarga, orang terdekat dan rekan medik.Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu :
1) Biodata
Data lengkap dari pasien meliputi :nama lengkap, umur, jenis kelamin, status perkawinan, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat. Identitas penanggung jawab meliputi :nama lengkap, jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, dan hubungan dengan pasien.
2) Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan pasien dan yang lazim ditemukan pada pengkajian ini adalah terdapat benjolan pada lokasi tertentu dan nyeri
b) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan pasien saat masuk rumah sakit misalnya terdapat benjolan dan terasa nyeri.
c) Riwayat kesehatan lalu
Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya, atau penyakit lain.Apakah pasien pernah dirawat di rumah sakit.
d) Riwayat kesehatan keluarga
Dalam hal ini dikaji apakah ada keluarga yang menderita/mengalami penyakit keturunan misalnya : Diabetes mellitus, Hepatits, dan lain-lain.
e) Riwayat psikososial meliputi :
- Pola konsep diri : pandangan pasien terhadap keadaanya
- Pola kognitif : pengetahuan klien tentang penyakit yang dialaminya
- Pola koping : menyankut hal-hal yang dilakukan pasien dan keluarga dalam menangani masalahnya.
- Pola interaksi : menggambarkan bagaimana hubungan pasien dengan keluarga dengan orang lain dan perawat yang merawatnya selama di rumah sakit.
f) Riwayat spiritual
Bagaimana ketaatan pasien dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan agama yang dianut, dukungan keluarga terhadap kepercayaan pasien dan acara keagamaan yang biasa diikuti.
g) Pengkajian fisik
Dilakukan secara persistem yang difokuskan pada adanya gejala yang paling sering atau utama adalah adanya benjolan dan terasa nyeri. Dalam pemerikssan fisik digunakan empat prosedur yang melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perabaan dan penghidu.Empat prosedur itu adalah:
- Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera penglihatan dan penghidu.
• Penglihatan : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, kedalaman pernapasan dan simetrisitas, bahasa tubuh, postur dan pergerakan.
• Pendengaran : mendengarkan sifat batuk, nada suara, suara napas, atau isi interaksi dengan orang lain.
• Penghidu : mendeteksi bau.
- Palpasi adalah menyentuh dan menekan pemukaan luar tubuh dengan jari.
• Sentuhan : merasakan adanya pembengkakan, massa, mencatat suhu, kelembapan, dan tekstur kulit.
• Tekanan : menentukan tekanan nadi (kuat, lemah, teratur), mengevaluasi edema.
• Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal.
- Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan dibawahnya.
• Menggunakan ujung jari : mengetuk dada untuk mendengar ada tidaknya cairan atau massa.
• Menggunakan palu pekusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah.
- Auskultasi adalah mendengar di ruang antikubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung paru, abdomen (bising usus)
- Test diagnostic
b. Mengelompokkan data
Pengelompokkan data merupakan suatu pengaturan yang sistematis yang terdiri dari :
1) Data subjektif : merupakan data yang didapat berdasarkan keluhan-keluhan pasien yang tidak dirasakan oleh orang lain.
2) Data objektif : merupakan data yang biasa dilihat dan diukur oleh seorang perawat.
c. Analisa data
Kegiatan yang dilakukan untuk menginterpretasikan dan pengambilan keputusan.
d. Fokus pengkajian.
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh, pada tahap ini, semua data atau informasi klien dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan.
1) Aktivitas/istirahat.
Tanda dan gejala : atropi otot, gangguan dalam berjalan, riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk dalam waktu lama.
2) Eliminasi.
Tanda dan gejala : konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya inkontinensia dan retensi urine.
3) Integritas ego.
Tanda dan gejala : cemas, depresi, menghindar, ketakutan akan timbul paralysis, ansietas masalah pekerjaan, finansial keluarga.
4) Neurosensoris.
Tanda dan gejala : penurunan refleks tendo dan kelemahan otot hipotonia, nyeri tekan, kesemutan, ketakutan, kelemahan dari tangan dan kaki.
5) Nyeri atau ketidaknyamanan.
Tanda dan gejala : sikap, perubahan cara berjalan, nyeri tertusuk paku, semakin memburuk dengan batuk, bersin membengkokkan badan
6) Keamanan
Gejala : adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi.(Doengues,1999,hal.320-321).

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah klinis tentang respon aktual dan potensial dari individual, keluarga, dan masyarakat terhadap masalah kesehatan dalan proses kehidupan .
Diagnosa keperawatan pada masalah hernia yaitu :
a. Nyeri akut / kronis b/d agen pencedera fisik : kompresi saraf, spasme otot.
b. Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri, ketidak nyamanan
c. Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
d. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan tindakan b/d tidak mengenal sumber – sumber informasi.

3. Rencana keperawatan
Perencanaan tindakan / intervensi adalah merupakan suatu pedoman bagi perawat dalam melakukan implementasi yang tepat.
Rencana tindakan :
a. Nyeri akut / kronis b/d agen pencedera fisik : kompresi saraf, spasme otot.
HYD : Melaporkan nyeri hilang / terkontrol.
Intervensi :
1) Kaji adanya keluhan nyeri catat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus yang memperberat. Minta pasien untuk menetapkan skala 0 –10.
Rasional : Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi.
2) Pertahankan tirah baring selama fase akut, letakkan pasien dalam posisi semi powler
Rasional : Tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk menurunkan spasme otot, menurunkan penekanan pada bagian tubuh tertentu yang memfasilitasi terjadinya reduksi dari tonjolan discus.
3) Batasi aktivitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan.
Rasional : Menurunkan gaya gravitasi dan gerakan yang dapat menghilangkan spasme otot dan menurunkan edema dan tekanan pada struktur sekitar duktus intervertebralis yang terkena.
4) Instruksikan pasien untuk melakukan teknik relaksasi.
Rasional : Memfokuskan perhatian pasien, membantu menurunkan ketegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
5) Berikan obat sesuai kebutuhan.
Rasional : Merelaksasikan otot dan menurunkan nyeri.

b. Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri, ketidaknyamanan
HYD : Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit / kompensasi.
Intervensi :
1) Catat respon emosi /perilaku pada mobilisasi. Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien.
Rasional : Immobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan.
2) Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif.
Rasional : Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang khusus tetapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.
3) Anjurkan pasien untuk tetap ikut berperan serta dalam aktivitas sehari – hari dalam keterbatasan individu.
Rasional : Partisipasi pasien akan meningkatkan kemandirian dan perasaan kontrol terhadapdiri.
4) Berikan perawatan kulit dengan baik.
Rasional : Menurunkan risiko iritasi /kerusakan pada kulit.
c. Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
HYD : Mengidentifikasi ketidakefektifan perilaku koping dan konsekuensinya.
Intervensi :
1) Kaji tingkat asietas pasien.
Rasional : Membantu dalam mengidentifikasi kekuatan dan keterampilan yang mungkin membantu pasien mengatasi keadaannya.
2) Berikan informasiyang akurat dan jawaban yang jujur .
Rasional : Memungkinkan pasien untuk membuat keputusan yang didasarkan atas pengetahuannya.
3) Berikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya.
Rasional : Kebanyakan pasien mengalami masalah yang perlu untuk diungkapkan dan diberi respon dengan informasi yang akurat untuk meningkatkan koping terhadap situasi yang sedang dihadapinya.
4) Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhan.
Rasional : pasien mungkin secara tidak sadar memperoleh keuntungan seperti terlepasnya tanggung jawab, perhatian dan kontrol diri yang lain.

d. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan tindakan b/d tidak mengenal sumber – sumber informasi.
HYD : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan tindakan.
Intervensi :
1) Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis serta pembatasan kegiatan.
Rasional : Pengetahuan dasar yang memadai memungkinkan pasien untuk membuat pilihan yang tepat.
2) Berikan informasi tentang berbagai hal dan instruksikan pasien untuk melakukan perubahan “mekanika tubuh”.
Rasional : Menurunkan risiko terjadinya trauma berulang dari leher punggung dengan menggunaklan otot- otot bokong.
3) Diskusukan mengenai pengobatan dan juga efek samping.
Rasional :Menurunkan risiko komplikasi.
4) Berikan informasi mengenai tanda – tanda yang perlu untuk dilaporkan pada evaluasi berikutnya.
Rasional : Perkembangan dari proses penyakit mungkin memerlukan tindakan / pembedahan lebih.

4. Implementasi Keperawatan.
Pengelolaan dan perwujudan dari perencanaan keperawatan, pelaksanaan untuk pelaksanaan yang efektif dituntut keterampilan, pengetahuan yang luas dari tenaga perawat dan berdasarkan pemeliharaan yang rasional.
a. Melaksanakan rencana perawatan setelah informasi yang mencakup dalam perawatan, merupakan dasar atau pedoman dari intervensi keperawatan.
b. Mengidentifikasi reaksi dan tanggapan pasien, dibutuhkan tenaga perawat yang memiliki keterampilan intelektual dan teknik yang dilakukan secara cermat dan efisien pada situasi yang tepat.
c. Kebutuhan fisik dan psikologis di lindungi, memberikan bantuan pada pasien yang berhubungan dengan ketekanan fisik dan psikologis.
d. Dokumentasi intervensi dan respon pasien serta mengevaluasi tanggapan dengan cara membandingkan dengan syarat dan kriteria hasil yang diharapkan.

5. Evaluasi keperawatan
Penilaian keberhasilan perawatan dalam memenuhi kebutuhan pasien, evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan yang terdiri dari menentukan apa tujuan bias dicapai dan analisa keberhasilan. Intervensi perawatan dan perencanaan untuk selanjutnya. Metode evaluasi terdiri dari cara menghimpun data dari pasien berdasarkan kriteria yang di tentukan sebagai hasil yang diharapkan atau tujuan dari perawatan pasien.

C. Patoflow diagram
- Batuk menahun
- Obesitas
- Kelainan kogenital
- Dan lain – lain
Peningkatan tekanan intraabdominal
Isi intraabdominal tertekan
Kelemahan dinding abdomen
Prostrusi melalui dinding yang lemah
Hernia femoralis Hernia inguinalis Hernia umbilikalis
Ketidakadekuatan Isi usu keluar melalui dinding
metode koping inguinalis posterior
Kantong hernia mencapai scrotum
Tindakan pembedahan Hernia scrotalis Penyumbatan usus
Stragulasi usus menyempit
Luka insisi Tindakan invasif mdik
(NGT, Infus, Cahateter) Pembatasan masukan
Rasangsangan sensori
nyeri meningkat
Kenyamanan terganggu



BAB III
TINJAUAN KASUS

Kamar : I2 Perawat yang mengkaji : Asnawati
Ruang : Maria Anamnese diperoleh dari : Pasien
Tanggal masuk : 21 – 07 – 2009 Jam masuk : 07.00

A. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas pasien
Nama : Tn. “M”
Umur : 30 Tahun
Agama : Islam
Alamat : Tancung purai – Wajo
Pendidikan : Tamat SD
Pekerjaan : Tani
Suku : Bugis
Bahasa : Bugis dan bahasa Indonesia
Status perkawinan : Duda
Warga nehara : Indonesia
No. register : 00.20.637

b. Identitas penanggung jawab
Nama : Tn. “L”
Umur : 50 Tahun
Agama : Islam
Alamat : Tancung purai – Wajo
Pendidikan : Tamat SD
Pekerjaan : Tani
Suku : Bugis
Status perkawinan : Nikah
Hubungan dengan pasien : Ayah

2. Data Medik
a. Dikirim oleh : Rumah Sakit Lamadukkelleng – Wajo
b. Diagnosa medik : Hernia Scrotalis
c. Tanggal Pengobatan terakhir : Pasien lupa.

3. Keluhan Utama
Terdapat Benjolan pada scrotum bagian kanan.

4. Riwayat Keluhan Utama
Pasien masuk Rumah Sakit dengan rujukan dari Rumah Sakit Lamadukkelleng – Wajo dengan hernia scrotalis. Pasien mengatakan ada benjolan pada scrotum bagian kanan dan terasa nyeri yang dirasakan sejak kurang lebih dua tahun. Benjolan mulai tidak masuk sejak kemarin malam (tanggal 19 – 07 – 2009), pasien mengeluh demam naik turun sejak tadi malam (20 – 07 – 2009). Pasien mengatakan selama sakit ia berobat di dukun, karena tidak ada perubahan akhirnya pasien minta dirujuk oleh Sakit Lamadukkelleng – Wajo ke Rumah Sakit Fatima Parepare untuk diopname dan dilakukan tindakan bedah.

5. Riwayat Penyakit Dahulu
Menurut pasien dan keluarga, pasien jarang sakit. Umumnya pasien hanya menderita demam, influenza. Namun penyakit yang sekarang ini di derita oleh pasien dimulai sejak dua tahun.

6. Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
Menurut pasien dan keluarga, tidak ada diantara anggota keluarga lainnya yang mengalami penyakit menular ataupun penyakit keturunan seperti penyakit Hipertensi, diabetes militus, hepatitis, HIV dan TBC

7. Keadaan umum
a). Cara masuk : Pasien masuk dengan menggunakan kursi roda diantar oleh perawat dan keluarga.
b). Keadaan sakit : Pasien tampaksakit sedang
Alasan : Pasien masih dapat duduk, berdiri dan berjalan sendiri, tampak menggunakan infus pada lengan kiri.
c). Tanda – tanda vital
1) Tingkat kesadaran
a) Kualitatif : Composmenthis
b) Kuantitatif :
- Respon Motorik : 6
- Respon Verbal : 5
- Respon Pembukaan Mata : 4__+
Jumlah 15
Kesimpulan : Pasien sadar penuh
Kaku kuduk : Negatif
c) Suhu : 38,2oC
d) Nadi : 96 x / menit
e) Tekanan Darah : 120/ 90 mmHg
MAP = Sistole + Diastole x 2
3
= 120 + (90 x 2)
3
= 120 + 180
3
= 300
3
= 100 mmHg
Kesimpulan : Perfusi ginjal memadai
f) Pernapasan : 24 x / menit
g) Berat Badan : 65 kg
h) Tinggi Badan : 167 cm = 1,67 m
IMT = ___Berat Badan__
Tinggi Badan (m)2
= _65 kg__
(1,67 m)2
= 65 kg
2,79 m2
= 23,27 kg/m2
Kesimpulan : pasien dalam keadaan berat badan normal.

i) Kriteria IMT
IMT KRITERIA
< 18,5 Berat badan kurang pangan 18,5 - < 20,5 Berat badan kurang 20,5 – 22 Berat badan ideal > 22 – 25 Berat badan normal
26 – 30 Berat badan berlebihan
> 30 Obesitas

8. Pengkajian Pola Kesehatan
a. Pola Persepsi Dan Pemeliharaan Kesehata
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan mandi dua kali sehari, gosok gigi dan mengganti pakaian setiap selesai mandi, pasien mengatakan lingkungan rumah tempat tinggalnya kurang bersih, pasien merokok satu bungkus yang dihabiskan dalam dua malam. Bila sakit pasien hanya berobat di dukun. Lingkungan rumah yang tidak sehat dan kebiasaan merokok mempengaruhi kesehatan pasien.
2) Keadaan saat ini
Pasien tidak mampu mandi sendiri, gosok gigi dan mengganti pakaian. Pasien mandi satu kali sehari, gosok gigi dan ganti pakaian setiap selesai mandi. Kebutuhan personal higine dibantu oleh perawat dan keluarga, selama sakit pasien tidak merokok.
b. Pola Nutrisi
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan makan tiga kali sehari dengan makanan pokok nasi, sayur dan ikan. Nafsu makan pasien baik dan tidak ada alergi pada jenis makanan tertentu. Pasien minum + 6 – 8 gelas per hari dari sumber air minum sumur yang sudah dimasak.
2) Keadaan saat ini
Pasien puasa, kebutuhan cairan dan nutrisi diperoleh dari cairan infus RL 28 tetes / menit, pasien mengatakan kering pada tenggorokan
c. Pola Eliminasi
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan BAB dua kali sehari, konsistensi lunak, BAK tidak menentu, warna kuning jernih. Pasien mengatakan tidak ada gangguan pada saat BAB dan BAK. Pasien mengatakan ada benjolan pada skrotum sejak kurang lebih dua tahun yang lalu.
2) Keadaan saat ini
Selama pasien dirawat di rumah sakit pasien BAB satu kali, konsistensi encer, terpasang chateter tersambung ke urine bag.
d. Pola Aktivitas dan Latihan
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan aktivitas sehari – hari yaitu sebagai petani. Ia mulai beraktivitas pukul 07.00 WITA untuk mencari nafkah, di waktu luang pasien gunakan untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga.
2) Keadaan saat ini
Pasien mengatakan, sejak sakit ia sulit melakukan pergerakan, pasien tampak lemas, tampak sulit bergerak dan pasien tampak berhati – hati dalam bergerak.
e. Pola Tidur dan Istirahat
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan kebutuhan tidur dan istirahatnya cukup. Pasien mulai tidur siang pada pukul 12.00 – 14.00 WITA dan pada malam hari pukul 23.00 – 06.00 WITA. Pasien tidak pernah mengkonsumsi obat tidur dan pasien merasa segar setiap bangun tidur.
2) Keadaan saat ini
Pasien mengatakan kebutuhan tidur dan istirahatnya cukup, pasien tidur siang pukul 14.00 – 15.00 WITA dan pada malam hari pukul 21.00 – 05.00 WITA. Pasien tidak menggunakan obat tidur.
f. Pola Kognitif dan Persepsi Sensoris
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan kemampuan daya ingatnya baik, dapat berorientasi dengan waktu dan tempat. Pasien dapat berkomunikasi secara verbal dengan baik.

2) Keadaan saat ini
Pasien dapat berorientasi dengan waktu dan tempat, mampu membedakan warna yang diperlihatkan (warna merah dan putih), pasien mampumenunjukkan lokasi nyeri pada scrotum.
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan memiliki kekurangan yaitu adanya benjolan pada sckotum. Pasien mengatakan ia sabar dan tidak putus asa. Ia melaksanakan peran sebagai anak membantu orang tua mencari nafkah, namun pasien tidak melaksanakan peran sebagai orang tua karena anaknya tinggal bersama istrinya. Pasien melaksanakan peran dengan penuh tanggung jawab.
2) Keadaan saat ini
Pasien merasa tidak berdaya dan merasa tidak enak pada anggota keluarganya karena harus merepotkan keluarga lainnya dimana kebutuhan ekonomi yang tidak mendukung. Pasien merasa malu dan cemas dengan adanya benjolan pada skrotum.
h. Pola Peran dan Hubungan Dengan Sesama
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan tinggal bersama –sama dengan orang tuanya. Hubungan antara anggota keluarga dan tetangga cukup harmonis.

2) Keadaan saat ini
Selama sakit pasien tidak dapat melaksanakan perannya seperti biasanya. Pasien tidak dapat berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Di rumah sakit, pasien hanya berinteraksi dengan perawat dan keluarga yang menemani.
i. Pola Reproduksi dan Seksualitas
1) Keadaan sehari – hari
Pasien dengan jenis kelamin laki – laki berumur 30 tahun. Pasien telah menikah dan mempunyai satu orang anak dengan jenis kelamin laki – laki, pasien mengatakan telah tiga tahun bercerai dengan istrinya. Pasien mengatakan benjolan pada skrotumnya mulai ada kurang lebih sejak dua tahun, pasien mengatakan selalu membersihkan alat genitalianya.
2) Keadaan saat ini
Kebersihan alat genitalia dibantu oleh perawat. Tampak adanya kelainan pada genitalia.
j. Pola Mekanisme Koping Dan Toleransi Terhadap Stres
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan bila ada masalah kadang menceritakan dengan keluarga atau berdiam diri. Pasien merokok, menonton televisi untuk menghilangkan stres.

2) Keadaan saat ini
Pasien tampak pucat, tegang, gelisah dan takut terhadap kondisinya, pandangan pasien tampak ke mana – mana, pasien hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya dan kembali berkumpul bersama dengan keluarga.
k. Pola nilai dan keyakinan
1) Keadaan sehari – hari
Pasien mengatakan beragama islam dan jarang mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya karena harus mencari nafkah. Pasien hanya kadang – kadang melaksanakan ibadah.
2) Keadaan saat ini
Pasien tidak dapat melaksanakan ibadah, namun pasien selalu berdoa untuk kesembuhannya dan harapan untuk berkumpul bersama dengan keluarga.

9. Pemeriksaan Fisik
a. Pre operasi tanggal 21 juli 2009
1) Kepala
Inspeksi : Kulit kepala tampak kotor, rambut kering, berketombe, tidak tampak adanya benjolan.
Palpasi : Tidak teraba adanya benjolan dan nyeri tekan, rambut tidak mudah rontok.
2) Dahi
Inspeksi : Tidak tampak adanya benjolan.
Palapsi : Tidak ada nyeri tekan dan finger print negatife.
3) Mata
Inspeksi : Mata tampak simetris kiri dan kanan, pupil isokor, sclera berwarna putih, konjungtiva pucat dan tidak tampak adanya edema palpebrae.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan Tekanan Intra Okuler (TIO).
4) Telinga
Inspekksi : Tampak simetris kiri dan kanan, kanalis tampak bersih, tampak adanya serumen, fungsi pendengaran baik.
Palpasi : Tidak teraba adanya benjolan dan nyeri tekan.
5) Hidung
Inspeksi : Septum hidung di tengah, tidak tampak adanya polip, secret dan benda asing. Terpasang NGT tersambung ke Botol.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada sinus.
6) Mulut
Inspeksi : Tidak tampak adanya peradangan pada rongga mulut, lidah tampak kotor, ovula di tengah, tonsil T1, tampak adanya carries pada gigi seri kanan atas dan berlubang pada gigi molar tiga kanan bawah.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
7) Leher
Inspeksi : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar getah bening.
Palpasi : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar getah bening.

8) Thoraks
Inspeksi : Bentuk dada barrel chest, tampak simetris, tidak tampak adanya benjolan, tidak tampak denyutan ictus cordis, pernapasan 30 x / menit.
Palpasi : Tidak teraba adanya benjolan, Vokal Fremitus teraba getaran yang sama pada tangan kiri dan kanan.
Perkusi : Lapang paru sonor, lokasi hepar dan jantung pekak. Tidak ada pembesaran jantung.
Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler, tidak terdengar suara napas tambahan, HR 88 x / menit.

9) Abdomen
Inspeksi : Abdomen tampak membuncit, tidak tampak adanya benjolan dan bayangan vena.
Auskultasi : Peristaltik usus 30 x / menit
Palpasi : Tidak teraba adanya benjolan atau massa, tidak ada nyeri tekan pada regio MC Burney, epigastrik dan tidak ada pembesaran hepar dan lien.
Perkusi : Hypertimpani.
10) Genitalia
Inspeksi : Alat genitalia tampak tidak simetris pada skrotum, tampak ada benjolan dan kemerahan pada scrotum bagian kanan sebesar bola tennis. Terpasang chateter tersambung ke urine bag.
Palpasi : Teraba adanya benjolan pada skrotum bagian kanan dengan konsistensi keras.
11) Lengan dan tungkai
Inspeksi : Tangan dan kaki tampak simetris kiridan kanan, tidak tampak adanya edema, terpasang infus pada tangan kiri.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan pitting oedema.
Perkusi : Ada refleks pada patella.

12) Kulit
Inspeksi : Kulit tampak lembab.
Palpasi : Turgor kulit baik

b. Post Operasi (tanggal 22 – 07 – 2009 )
1) Kepala
Inspeksi : Kulit kepala tampak kotor, rambut kering, berketombe, tidak tampak adanya benjolan.
Palpasi : Tidak teraba adanya benjolan dan nyeri tekan, rambut tidak mudah rontok.
2) Dahi
Inspeksi : Tidak tampak adanya benjolan.
Palapsi : Tidak ada nyeri tekan dan finger print negatife.
3) Mata
Inspeksi : Mata tampak simetris kiri dan kanan, pupil isokor, sclera berwarna putih, konjungtiva pucat dan tidak tampak adanya edema palpebrae.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan Tekanan Intra Okuler (TIO).

4) Telinga
Inspekksi : Tampak simetris kiri dan kanan, kanalis tampak bersih, tampak adanya serumen, fungsi pendengaran baik.
Palpasi : Tidak teraba adanya benjolan dan nyeri tekan.
5) Hidung
Inspeksi : Septum hidung di tengah, tidak tampak adanya polip, secret dan benda asing. Terpasang NGT tersambung ke Botol.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada sinus.
6) Mulut
Inspeksi : Tidak tampak adanya peradangan pada rongga mulut, lidah tampak kotor, ovula di tengah, tonsil T1, tampak adanya carries pada gigi seri kanan atas dan berlubang pada gigi molar tiga kanan bawah,membran mukosa tampak kering.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
7) Leher
Inspeksi : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar getah bening.
Palpasi : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar getah bening.
8) Thoraks
Inspeksi : Bentuk dada barrel chest, tampak simetris, tidak tampak adanya benjolan, tidak tampak denyutan ictus cordis, pernapasan 24 x / menit.
Palpasi : Tidak teraba adanya benjolan, Vokal Fremitus teraba getaran yang sama pada tangan kiri dan kanan.
Perkusi : Lapang paru sonor, lokasi hepar dan jantung pekak. Tidak ada pembesaran jantung.
Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler, tidak terdengar suara napas tambahan, HR 84 x / menit.
9) Abdomen
Inspeksi : Abdomen tampak sedikit membuncit, tidak tampak adanya benjolan dan bayangan vena, tampak adanya verban luka operasi di abdomen kuadran kanan bawah, verban tampak bersih.
Auskultasi : Peristaltik usus 2 x / menit
Palpasi : Tidak teraba adanya benjolan atau massa, tidak ada nyeri tekan pada regio MC Burney, epigastrik dan tidak ada pembesaran hepar dan lien, nyeri tekan pada luka operasi.
Perkusi : Tympani.
10) Genitalia
Inspeksi : Alat genitalia tampak tidak simetris pada scrotum, tampak bengkak dan kemerahan pada scrotum bagian kanan. Terpasang chateter tersambung ke urine bag.
Palpasi : Teraba adanya benjolan pada skrotum bagian kanan dengan konsistensi keras.
11) Lengan dan tungkai
Inspeksi : Tangan dan kaki tampak simetris kiridan kanan, tidak tampak adanya edema, terpasang infus pada tangan kiri.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan pitting oedema.
Perkusi : Ada refleks pada patella.
12) Kulit
Inspeksi : Kulit tampak lembab.
Palpasi : Turgor kulit sedang

10. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
a. Pre Operasi Tanggal 21 – 07 – 2009
1). Hematologi Hasil Nilai Normal
a). Hemoglobin 13,8 g/dl 11,3 – 15,7 g/dl
b). Leukosit 12.100 /mm3 2600 – 8800 /mm3
c). Diff count
Limfosit 18,6 % 17, 47,9%
Eusinofil
Basofil 1,9 % 1,9 – 24,6 %
Monosit
Neutrofil 79,5 % 43,7 – 77,1 %
d). Trombosit 239.000 ribu/mm3 134 – 337 ribu/mm3
e). Waktu perdarahan 2 menit 1 – 3 menit
f). Waktu pembekuan 4 – 30 menit 2 – 6 menit
g). Widal :
Para Typhi B 1 : 80 Negatif
Para Typhi BO 1 : 80 Negatif
2). Kimia Darah
Gula darah sewaktu 106 mg% 76 – 110 mg%

b. Post Operasi (22 – 07 – 2009)
Pemeriksaan urine lengkap
1) Ep Cells : 12 – 15 lpd
2) Leukosit : Banyak
3) Eritrosit : 10 – 12 lpd
4) Ca Oksalat : 2 – 5
5) Bacteri : Sedikit

11. Therapy
a. Pre Operasi
1) Infus RL 24 tetes / menit
2) Stabactam 1 gram / 12 jam / IV
3) Antrain 1 ampul / 8 jam / IV
4) Rantin 1 ampul / 8 jam / IV
b. Post Operasi
1) Infus RL 28 tetes / menit
2) Stabactam 1 gram / 12 jam / IV
3) Rantin 1 ampul / 8 jam / IV
4) Remopain 1 ampul / 8 jam / drips

B. Klasifikasi Data
1. Pre Operasi
Data Subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada benjolan di skrotum kanan
- Pasien mengatakan cemas dengan adanya benjolan pada skrotum kanan.
Data Objektif :
- Pasien tampak pucat
- Pasien tampak tegang
- Tampak pandangan pasien ke mana – mana
- Pasien tampak gelisah

2. Post Operasi
Data Subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi
- Pasien mengatakan kesulitan dalam bergerak
- Pasien mengatakan kering pada tenggorokan
Data Objektif :
- Pasien tampak sakit sedang
- Tampak verban luka operasi pada abdomen kuadran kanan bawah
- Ekspresi wajah pasien tampak meringis
- Nyeri tekan pada luka operasi
- Tampak terpasang NGT
- Tampak terpasang chateter
- Tampak terpasanga infuse RL 28 tetes / menit
- Pasien tampak hati – hati dalam bergerak
- Turgor kulit sedang
- Pasien tampak puasa
- Membran mukosa tampak kering
- Peristaltik usus 2 x / menit
- Leukosit 12.100 /mm3
- Tekanan Darah 120/80 mmHg
- Suhu 36oC
- Nadi 80 x/menit

C. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
5. Pre Operasi
Data Subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada benjolan di skrotum kanan
- Pasien mengatakan cemas dengan adanya benjolan pada skrotum kanan.
Data Objektif :
- Pasien tampak pucat
- Pasien tampak tegang
- Tampak pandangan pasien ke mana – mana
- Pasien tampak gelisah

Post Operasi
Data Subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi
Data Objektif :
- Pasien tampak sakit sedang
- Tampak verban luka operasi pada abdomen kuadran kanan bawah
- Ekspresi wajah pasien tampak meringis
- Nyeri tekan pada luka operasi
Data Subjektif :
- Pasien mengatakan kering pada tenggorokan

Data Objektif :
- Pasien tampak puasa
- Membrane mukosa tampak kering
- Turgor kulit sedang
- Tampak terpasang infus RL 28 tetes / menit
- Peristaltik usus 2 x / menit

Data Subjektif : -
Data Objektif :
- Tampak terpasang NGT
- Tampak terpasang chateter
- Tampak terpasang infus RL 28 tetes / menit
- Tampak verban luka operasi pada abdomen kuadran kanan bawah
- Leukosit 12.100 /mm3
- Suhu 36oC
- Tekanan Darah 120/80 mmHg
- Nadi 80 x/menit
Data Subjektif :
- Pasien mengatakan kesulitan dalam bergerak
Data Objektif :
- Pasien tampaksakit sedang
- Tampak terpasang NGT
- Tampak terpasang chateter
- Tampak terpasang infus RL 28 tetes / menit
- Pasien tampak hati – hati dalam bergerak

Ketidakadekuatan metode koping
Insisi bedah
Pembatasan pemasukan cairan secara oral
Tindakan invasif

Ketidaknyamanan

Ansietas

Nyeri

Risiko tinggi kekurangan volume cairan
Resiko tinggi infeksi
Kerusakan mobilitas fisik

D. Prioritas Masalah
1. Pre Operasi
a). Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
2. Post Operasi
a). Nyeri b/d insisi bedah
b). Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
c). Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif
d). Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan

7. Genogram

Keterangan :

: Laki-laki : Pasien

: Tinggal serumah
: Perempuan

: Cerai
: Meninggal


E. Asuhan Keperawatan
Pre Operasi (tanggal 21 – 07 – 2009)
No. DP Diagnosa Keperawatan HYD Rencana Asuhan keperawatan
Intervensi Rasional
1.Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping, ditandai dengan :
Data Subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada benjolan di scrotum kanan
- Pasien mengatakan cemas dengan adanya benjolan pada scrotum kanan.
Data Objektif :
- Pasien tampak pucat
- Pasien tampak tegang
- Tampak pandanga pasien ke mana – mana
- Pasien tampak gelisah
Melaporkan ansietas berkurang atau dapat diatasi ddalam waktu 1 – 2 hari perawatan dengan kriteria :
- Ekspresi wajah rileks
- Pasien tidak cemas. 1. Kaji tingkat asietas pasien.
2. Berikan informasi yang akurat dan jawaban yang jujur .
3. Berikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya.
4. Anjurkan pasien untuk tetap selalub berdoa



1 Membantu dalam mengidentifikasi kekuatan dan keterampilan yang mungkin membantu pasien mengatasi keadaannya.

2 Memungkinkan pasien untukmembuat keputusan yang didasarkan atas pengetahuannya.

3 Kebanyakan pasien mengalami masalah yang perlu untuk diungkapkan dan diberi respon dengan informasi yang akurat untuk meningkatkan koping terhadap situasi yang sedang dihadapinya.

4 Dengan berdoa dapat memberikan ketenangan dalam jiwa dan mengurangi kecemasan


Post Operasi (tanggal 22 – 07 – 2009)
No. DP Diagnosa Keperawatan HYD Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi Rasional


Nyeri b/d insisi bedah, ditandai dengan :
Data Subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi
Data Objektif :
- Pasien tampak sakit sedang
- Tampak verban luka operasi pada abdomen kuadran kanan bawah
- Ekspresi wajah pasien tampak meringis
- Nyeri tekan pada luka operasi

Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral, ditandai dengan :
Data Subjektif :
- Pasien mengatakan kering pada tenggorokan

Data Objektif :
- Pasien tampak puasa
- Membrane mukosa tampak kering
- Turgor kulit sedang
- Tampak terpasang infus RL 28 tetes / menit
- Peristaltic usus 2 x / menit


Risiko tinggi infeksi b/d tindakan invasive, ditandai dengan :
Data Subjektif : -
Data Objektif :
- Tampak terpasang NGT
- Tampak terpasang chateter
- Tampak terpasang infus RL 28 tetes / menit
- Tampak verban luka operasi pada abdomen kuadran kanan bawah
- Leukosit 12.100 /mm3
- Suhu 36oC
- Tekanan Darah 120/80 mmHg
- Nadi 80 x/menit

Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan, ditandai dengan :
Data Subjektif :
- Pasien mengatakan kesulitan dalam bergerak
Data Objektif :
- Pasien tampak sakit sedang
- Tampak terpasang NGT
- Tampak terpasang chateter
- Tampak terpasang infus RL 28 tetes / menit
- Pasien tampak hati – hati dalam bergerak

Melaporkan nyeri hilang / terkontrol dalam waktu 1 – 3 hari perawatan dengan kriteria :
- Nyeri hilang atau terkontrol.
- Ekspresi wajah rileks


Mendemonstrasikan keseimbangan cairan yang adekuat, dalam waktu 1 – 3 hari perawatan dengan kriteria:
- Turgor kulit baik
- Membran mukosa lembab.
- Peristaltik usus 5 – 35 x / menit.


Mencapai penyembuhan luka yang cepat tanpa terjadi infeksi dalam waktu 2 – 3 hari perawatan dengan kriteria:
- Luka baik
- Tidak ada tanda – tanda infeksi
- Leukosit 2600 – 8800/mm3


Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit dalam waktu 2 – 3 hari perawatan, dengan criteria :
- Keadaan umum pasien baik
- Pasien dapat melakukan pergerakan dengan baik.


1 Kaji adanya keluhan nyeri catat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus yang memperberat.

2 Pertahankan tirah baring selama fase akut, beri posisi nyaman.


3 Batasi aktivitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan.




4 Instruksikan pasien untuk melakukan teknik relaksasi.


5 Berikan obat sesuai kebutuhan.


1. Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran.


2. Kaji pengeluaran urinarius, terutama untuk tipe operasi yang dilakukan.


3. Pasang chateter urinarius dengan atau tanpa urimeter sesuai kebutuhan.


4. Berikan cairan pariental, produksi darah atau plasma / ekspander sesuai petunjuk. Tingkatkan kecepatan IV jika diperlukan.

1. Kaji luas dan keadaan luka.


2. Beri perawatan luka dengan teknik aseptik.


3. Observasi tanda – tanda vital.


4. Anjurkan untuk melakukan teknik pencegahan, seperti tidak menyentuh luka bila tangan kotor.

5. Beri terapi antibiotik sesuai indikasi.




1. Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi sengan situasi yang spesifik.

2. Catat respon – respon emosi atau perilaku pada mobilisasi. Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien.

3. Berikan bantuan atau bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak fasif dan aktif.

4. Berikan perawatan kulit dengan baik.


5. Anjurkan pasien untuk melatih kaki bagian bawah. 1. Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi.

2. Tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk menurunkan spasme otot, menurunkan penekanan pada bagian tubuh tertentu.

3. Menurunkan gaya gravitasi dan gerakan yang dapat menghilangkan spasme otot dan menurunkan edema dan tekanan pada struktur sekitar duktus intervertebralis yang terkena.

4. Memfokuskan perhatian pasien, membantu menurunkan ketegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.

5. Merelaksasikan otot dan menurunkan nyeri.


1. Dokumentasi yang akurat akan membantu mengidentifikasi pengeluaran cairan / kebutuhan penggantian dan pilihan yang mempengaruhi intervensi.

2. Mungkin akan terjadi penurunan atau penghilangan setelah prosedur pada sistem genitourinarius, mengindikasikan malfungsi ataupun obstruksi sistem urinaris.

3. Memberikan mekanisme untuk memantau pengeluaran urinarius secara akurat.

4. Ganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan.


1. Pengkajian yang tepat pada luka dapat membantu dalam menentukan intervensi selanjutnya.

2. Menjaga kontaminasi luka dengan lingkungan dan merangsang munculnya granulasi.

3. Perubahan tanda – tanda vital terutama suhu, mengidentifikasikan adanya infeksi.

4. Mencegah terjadinya infeksi silang.

5. Pemberian antibiotik dapat mencegah terjadinya infeksi dan mencapai penyembuhan yang cepat.

1. Tergantung pada bagian tubuh yang terkena atau jenis prosedur, aktivitas yang kurang hati – hati akan meningkatkan kerusakan spinal.

2. Mobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan, peka rangsang.


3. Memperkuat otot abdomen dan fleksor tulang belakang, memperbaiki mekanika tubuh.

4. Menurunkan risiko, iritasi atau kerusakan pada kulit.

5. Stimulasi sirkulasi vena atau arus balik vena, menurunkan keadaan vena yang statis dan kemungkinan terbentuknya trombus.


F. Implementasi
Hari/Tanggal No.DP Jam Implementasi Nama

- Menerima pasien baru di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Fatima Parepare, dengan rujukan dari Rumah Sakit Lamadukkelleng dengan hernia scrotalis. Pasien mengatakan ada benjolan dan terasa nyeri pada skrotum kanan, sejak kurang lebih dua tahun yang lalu. Pasien mengatakan benjolan mulai tidak masuk, mulai kemarin malam (tanggal 19 – 07 – 2009) dan demam naik turun mulai tadi malam (tanggal 20 – 07 – 2009).
- Mengukur tanda – tanda vital :
Suhu : 38,2oC
Nadi : 96 x/menit
Tekanan darah : 120/90 mmHg
Pernapasan : 24 x/menit.
- Memasang infus pada lengan kiri dengan cairan RL 24 tetes/menit.
- Mengantar pasien ke ruang perawatan Maria dengan menggunakan kursi roda.
- Menerima pasien baru di ruang perawatan Maria dan mengistirahatkan pasien di tempat tidur.
- Mengobservasi keadaan umum dan mengkaji keluhan pasien.
“Pasien tampak sakit sedang, keluhan nyeri pada daerah skrotum kanan, badan teraba hangat, tampak adanya benjolan pada skrotum kanan sebesar bola tennis, pasien tampak tegang dan pandangan mata tampak ke mana – mana, ekspresi wajah tampak meringis. Terpasang infus pada lengan kiri dengan cairan RL 24 tetes/menit”.
- Mengukur tanda vital :
Suhu : 38oC
Nadi : 96 x/menit
Tekanan darah 120/80 mmHg
Pernapasan : 30 x/menit
- Menganjurkan pada pasien napas dalam bila nyeri timbul
- Menjelaskan kepada keluarga tentang rencana tindakan medik dan rencana operasi untuk pasien.
- Memberikan surat persetujuan tindakan medik dan persetujuan operasi pada Tn.”L” selaku ayah pasien untuk ditanda tangani.
- Memberikan skint test antibiotik Stabactam.
- Memasang chateter No.16, keluar urine warna kuning pekat mengalir ke urine bag.
- Memasang NGT No.16, keluar CMS warna putih jernih sebanyak 600 cc, mengalir ke botol.
- Menilai hasil skint test “hasil skint test negatif”
- Mencukur area operasi pada abdomen kanan bawah dan alat genitalia.
- Memakaikan pakaian operasi, kaos kaki dan topi operasi.
- Mengantar pasien ke kamar operasi.
- Menjemput pasien dari kamar operasi
- Mengistirahatkan pasien di tempat tidur dan mengobservasi keadaan umum serta keluhan pasien.
“Pasien tampak lemas, keluhan menggigil dan belum berasa pada kedua tungkai, verban luka tampak bersih, pasien tampak sadar, NGT terpasang dengan baik dan mengalir ke botol, chateter tersambung ke urine bag,urine warna kuning pekat”.
- Memonitoring tetesan infus
Infus terpasang dengan cairan RL 28 tetes/menit pada lengan kiri.
- Pasien dianjurkan untuk puasa.
- Mengukur tanda – tanda vita
Suhu : 36oC
Nadi : 88 x/menit
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Pernapasan : 24 x/menit
- Menganjurkan pada pasien untuk tetap istirahat.
- Menakar urine 400 cc
- Memnghitung balance cairan
Intake : cairan infus 1700 cc
Air putih pasien puasa_+
Jumlah intake 1700 cc
Output : urine 400 cc
CMS 600 cc
IWL _204 cc_+
Jumlah output : 1254 cc –
Jumlah balance cairan sip pagi 446 cc
- Mengobservasi keadaan umum dan mengkaji keluhan pasien.
“Pasien tampak sakit sedang, keluhan lain tidak ada, pasien belum berasa pada kaki, tampak verban luka bersih, pasien tampak tegang dan pandangan mata ke mana – mana. NGT terpasang dengan baik dan mengalir ke botol, warna CMS kecoklatan, chateter tersambung ke urine bag”.
- Memonitoring tetesan infus
Infus terpasang pada lengan kiri dengan cairan RL 28 tetes/menit, tetesan lancer.
- Menganjurkan pada pasien untuk tetap puasa
- Mengukur tanda – tanda vital
Suhu : 37,6oC
Nadi : 80 x/menit
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Pernapasan : 20 x/menit
- Menganjurkan pada pasien untuk istirahat
- Memberikan kompres alkohol 25% pada axilla.
- Memberikan injeksi rantin 1 ampul/IV
- Mengganti cairan dengan cairan RL 28 tetes/menit dan memberikan injeksi Remopain 1 ampul/drips
- Menakar urine 300 cc
- Menghitung balance cairan
Intake : cairan infus : 550 cc
Air putih : pasien puasa +
Jumlah Intake : 550 cc
Output : urine : 300 cc
IWL : 204 cc_____+
Jumlah output : 504 cc -
Jumlah balance sip sore : + 46 cc
- Merencanakan mengobservasi keadaan umum dan keluhan pasien, namun pasien sudah tidur.

- Mengobservasi keadaan umum dan mengkaji keluhan pasien.
“Pasien tampak sakit sedang, keluhan sakit pada luka operasi, pasien mengatakan sulit bergerak, pasien tampak lemas, verban luka tampak bersih, terpasang NGT mengalir ke botol, terpasang chateter tersambung ke urine bag”.
- Memonitor tetesan infus
Terpasang infus dengan cairan RL 28 tetes/menit.
- Menganjurkan pada pasien untuk tetap puasa dan mobilisasi.
- Menakar urine 110 cc
- Menghitung balance cairan
Intake : cairan infuse : 700 cc
Air putih : pasien puasa +
Jumlah intake : 700 cc
Output : urine : 110 cc
IWL : 406 cc___+
Jumlah output : 516 cc -
Jumlah balance cairan sip malam184 cc
- Menghitung balance cairan per 24 jam
Intake : 2950 cc
Output : 2274 cc-
Jumlah balance cairan/24 jam:+676 cc
- Memberikan injeksi remopain 1 ampul / drips
- Memandikan pasien dalam posisi baring
- Mengganti tenun dan merapikan tempat tidur.
- Mengobservasi keadaan umum dan mengkaji keluhan pasien.
“Pasien tampak sakit sedang, keluhan batuk satu – satu kali, keluhan nyeri pada luka operasi saat batuk, pasien tampak sulit bergerak, verban luka tampak bersih, terpasang NGT mengalir ke botol, terpasang chateter tersambung ke urine bag”.
- Memonitori tetesan infus
Infus terpasang dengan cairan RL 28 tetes/menit pada lengan kiri, tetesan lancar.
- Menganjurkan pada pasien untuk tetap puasa.
- Menganjurkan pasien mobilisasi.
- Memberikan injeksi rantin 1 ampul / IV
- Memberikan injeksi stabactam 1 gram / IV.
- Mengobservasi keadaan umum dan mengkaji keluhan pasien.
“Pasien tampak sakit sedang, keluhan batuk satu – satu kali, keluhan nyeri pada luka operasi saat batuk, pasien tampak sulit bergerak, verban luka tampak bersih, terpasang NGT mengalir ke botol, terpasang chateter tersambung ke urine bag”.
- Memonitoring tetesan infus
Infus terpasang dengan cairan RL 28 tetes/menit pada lengan kiri, tetesan lancer.
- Mengukur tanda – tanda vital
Suhu : 37oC
Nadi :80 x/menit
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
- Menganjurkan pada pasien untuk tetap puasa.
- Menganjurkan pasien mobilisasi.
- Memberikan injeksi remopain 1 ampul/drips.
- Menakar urine 200 cc
- Menghitung balance cairan
Intake : cairan infus : 1150 cc
Air putih : pasien puasa__+
Jumlah intake : 1150 cc
Output : urine : 200 cc
CMS : 20 cc
IWL : 204 cc_+
Jumlah output : 424 cc –
Jumlah balance cairan sip pagi: 726 cc
- Melakukan koreksi CMS dengan cairan NaCl sebanyak 20 cc
- Mengobservasi keadaan umum dan megkaji keluhan pasien
“Pasien tampak sakit sedang, keluhan batuk satu – satu kali, nyeri pada luka operasi, keluhan lain tidak ada, chateter tersambung ke urine bag, NGT terpasang dan mengalir ke botol”.
- Memonitor tetesan infus
Infus terpasang dengan cairan RL 28 tetes/menit pada lengan kiri.
- Menganjurkan pada pasien untuk mobilisasi.
- Memberi injeksi rantin 1 ampul /IV
- Mengukur suhu badan : 37oC
- Mengganti cairan infus dengan RL 28 tetes / menit dan memberikan injeksi remopain 1 ampul / drips.
- Menakar urine 100 cc
- Menghitung balance cairan
Intake : cairan infus : 600 cc
Air putih : pasien puasa ¬¬¬+
Jumlah intake : 600 cc
Output : urine : 100 cc
CMS : 40 cc
IWL : 204 cc__+
Jumlah output : 344 cc –
Jumlah balance cairan sip sore: 256 cc
- Melakukan koreksi CMS dengan cairan NaCl sebanyak 40 cc
- Mengobservasi keadaan umum dan mengkaji keluhan pasien.
“Pasien tampak sakit sedang, keluhan batuk satu – satu kali, keluhan nyeri pada luka operasi mulai berkurang, verban luka tampak bersih, ekspersi wajah mulai rileks, pasien mulai dapat bergerak, terpasang NGT dan mengalir ke botol, terpasang chateter tersambung ke urine bag”.
- Memonitoring tetesan infus
Infus terpasang pada lengan kiri dengan cairan RL 28 tetes/menit, tetesan lancer.
- Mengobservasi tanda – tanda vital
Suhu : 36,9oC
Nadi : 72x/menit
Tekanan darah : 110/80mmHg
- Menganjurkan pasien untuk mobilisasi dan tarik napas dalam bila nyeri timbul.
- Menakar urine : 120 cc
- Menghitung balance cairan
Intake : cairan infuse : 1500 cc
Air putih : pasien puasa +
Jumlah intake : 1500 cc
Output : urine : 120 cc
IWL : 406 cc +
Jumlah output : 526 cc -
Jumlah balance cairan sip malam 974
- Balance cairan / 24 jam:
Intake : 2450 cc
Output : 1284 cc -
Jumlah balance cairan/ 24 jam1166 cc

- Mengobservasi keadaan umum dan mengkaji keluhan pasien.
“ pasien tampak sakit sedang, pasien mengeluh batuk satu,satu kali, keluhan nyeri pada luka operasi mulai berkurang, ekspresi wajah mulai rileks, verban luka tampak bersih, terpasang NGT mengalir ke botol, terpasag chteter tersambung ke urine bag.
- Memonitori tetesan infus.
“Infus terpasang pada lengan kiri dengan cairan RL 28 tetes / menit,tetesan lancar.
- Menganjurkan pasien untuk mobilisasi.
- Memberikan posisi semi fowler.
- Memberikan injeksi rantin 1 ampul / IV.
- Merawat luka dan mengganti verban.
“Luka tampak kering, didesinfeksi dengan septadine dan alcohol 70% kemudian ditutup dengan opposite.
- Memberikan injeksi stabactam 1 gram / IV.
- Memberikan injeksi remopain 1 ampul / drips.
- Memberikan penyuluhan tentang hal-hal yang menyangkut penyakit hernia.

F. EVALUASI.

Hari /Tanggal No. DP Pukul Evaluasi Nama Jelas

Pre Operasi.
Ansietas b/d Ketidakadekuatan metode koping.
S : Pasien mengatakan cemas.
O : Pandagan mata tampak kemana- mana.
A : Masalah belum teratasi.
P : Intervensi dilanjutkan.
1. Kaji tinggkat ansietas pasien.
2. Beri informasi yang adekuat dan jawaban yang benar.
3. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi.
4. Anjurkan pasien untuk tetap berdoa.

Post Operasi
Nyeri b/d Insisi bedah.
S : Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi.
O : Ekspresi wajah tampak meringis.
A : Masalah belum teratasi.
P : Intevensi dilanjutkan.
1. Kaji adanya keluhan nyeri,catat lokasi, lamanya, factor pencetus yang menyebabkan nyeri.
2. Pertahankan tirah baring selama fase akut, beri posisi yang nyaman.
3. Batasi aktivitas selama fase akut sesuai kebutuhan.
4. Instruksikan pasien untuk melakukan relaksasi.
5. Beri terapi sesuai kabutuhan.

Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan masukan cairan secara oral.
S : Pasien mengatakan tenggorokannya kering.
O : Pasien puasa dan membrane mucosa kering.
A : Masalah tidak terjadi.
P : Intevensi dipertahankan.
1. Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran.
2. Kaji pengeluaran urinarius.
3. Pasang kateter urinarius.
4. Berikan cairan pariental.

Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif.
S : -
O : Tampak terpasang alat medik (infus,chateter, NGT).
A : Masalah belum terjadi.
P : Intervensi dipertahankan.
1. Kaji luas dan kedalaman luka.
2. Beri perawatan luka dengan teknik aseptik.
3. Observasi tanda-tanda vital.
4. Anjurkan untuk melakukan teknik pencegahan.
5. Beri terapi antibiotik.

Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan.
S : Pasien mengatakan sulit dalam melakukan pergerakan.
O : Tampak terpasang alat medik (infus, chateter, NGT).
A : Masalah belum teratasi.
P : Intrvensi dilanjutkan
1. Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan situasi yang spesifik.
2. Catat respon-respon emosi / perilaku pada mobilisasi.
3. Berikan bantuan / bantu untuk melakukan rentang gerak pasif dan aktif.
4. Anjurkan pasien untuk melatih kaki bagian bawah.
5. Berikan perawatan kulit dengan baik.


Pre Opersi
Ansietas b/d Ketidakadekuatan metode koping.
S : Pasien mengatakan kecemasanya mulai berkurang
O : Pasien tampak mulai rileks
A : Masalah mulai teratasi
P : intervensi diperahankan
1. Kaji tingkat ansietas pasien.
2. Beri informasi yang adekuat dan jawaban yang benar.
3. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi.
4. Anjurkan pasien untuk tetap berdoa.

Post Operasi
Nyeri b/d Insisi bedah.
S : Keluhan nyeri pada luka operasi mulai berkurang.
O : Ekspresi wajah mulai rileks.
A : Masalah mulai teratasi.
P : Intevensi dipertahankan.
1. Kaji adanya keluhan nyeri,catat lokasi, lamanya, faktor pencetus yang menyebabkan nyeri.
2. Pertahankan tirah baring selama fase akut, beri posisi yang nyaman.
3. Batasi aktivitas selama fase akut sesuai kebutuhan.
4. Instruksikan pasien untuk melakukan relaksasi.
5. Beri terapi sesuai kabutuhan.

Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan masukan cairan secara oral.
S : Pasien mengatakan tenggorokannya kering.
O : Pasien puasa dan membran mucosa kering.
A : Masalah tidak terjadi.
P : Intevensi dipertahankan.
1. Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran.
2. Kaji pengeluaran urinarius.
3. Pasang kateter urinarius.
4. Berikan cairan pariental.


Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif.
S : -
O : Tampak terpasang alat medik (infus,chateter, NGT).
A : Masalah belum terjadi.
P : Intervensi dipertahankan.
1. Kaji luas dan kedalaman luka.
2. Beri perawatan luka dengan teknik aseptik.
3. Observasi tanda-tanda vital.
4. Anjurkan untuk melakukan teknik pencegahan.
5. Beri terapi antibiotik.

Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan.
S : Pasien mengatakan dapat melakukan pergerakan.
O : Tampak terpasang alat medik (infus, chateter, NGT).
A : Masalah mulai teratasi.
P : Intrvensi dipertahankan
1. Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan situasi yang spesifik.
2. Catat respon-respon emosi / perilaku pada mobilisasi.
3. Berikan bantuan / bantu untuk melakukan rentang gerak pasif dan aktif.
4. Anjurkan pasien untuk melatih kaki bagan bawah.
5. Berikan perawatan kulit dengan baik.

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini, penulis akan membahas tentang persamaan dan perbedaan yang muncul antara tinjauan teori dan tinjauan kasus pada asuhan keperawatan yang langsung pada pasien.
Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya, penulis telah menguraikan konsep dasar dan pendekatan asuhan keperawatan yang terbagi dalam lima tahap yaitu : Pengkajian, Diagosa Keperawatan, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.
Setelah melakukan pengamatan kasus serta memberi asuhan keperawatan pada Tn.”M” yang dirawat di runag perawatan Maria Rumah Sakit Fatima Parepare dengan kasus hernia scrotalis lalu dibandingkan dengan teori yang di dapat di bangku kuliah apakah terdapat kesamaan atau tidak.

A. Pengkajian
Pada pengkajian tinjauan teori, tanda dan gejala hernia berupa benjolan di lipat paha, benjolan tersebut bias mengecil dan menghilang pada saat istirahat, bila menangis, mengejan dan batuk. Bila terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri. Sedangkan pada kasus yang diambil juga muncul gejala tersebut dan ditemukan tanda dan gejala berupa perut kembung dan demam pada kasus nyata. Namun dalam teori, perut kembung bias terjadi akibat penyumbatan dan perdarahan sedangkan demam bias terjadi akibat isi perut terjepit.
Pada pembahasan pengkajian ini dapat disimpulkan bahwa pada teori dan kasus nyata dapat ditemukan kesamaan dimana teori yang ada dari berbagai macam literatur sama dengan tanda dan gejala pada pasien Tn.”M”, meskipun ada beberapa gejala lain yang menyertai namun merupakan salah satu tanda dari peroses penyakit tersebut dalam menimbulkan komplikasi.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada tinjauan teori pasien hernia adalah :
1. Nyeri akut / kronis b/d agen pencedera fisik : kompresi saraf, spasme otot.
2. Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri, ketidaknyamanan
3. Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan tindakan b/d tidak mengenal sumber – sumber informasi.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang di dapat pada tinjauan kasus sebagai berikut :
3. Pre Operasi
b). Ansietas b/d ketidak adekuatan metode koping
4. Post Operasi
a). Nyeri b/d insisi bedah
b). Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
c). Resiko tinggi infeksi b/d tindakan infasif
d). Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan
Berdasarkan diagnosa keperawtan yang diatas terdapat adanya kesenjangan antara diagnosa pada teori dengan diagnosa keperawatan pada kaus nyata dimana pada kasus nyata ditemukan 5 diagnosa yaitu :
1. Ansietas b/d ketidak adekuatan metode koping
Pada diagnosa ini, penulis mengangkatnya karena pada saat anamnese dan kontak langsung dengan pasien, tampak ekspresi wajah yang tegang, pucat, pandangan mata ke mana – mana dan adanya kecemasan pasien yang diungkapkan baik pada saat pre operasi maupun pada saat post operasi.
2. Nyeri b/d insisi bedah
Perbedaan etiologi diagnosa nyeri pada kasus nyata denga teori, dimana pada diagnosa keperawatan pada pasien, penulis mengangkat Nyeri b/d insisi bedah. Penulis mengangkat diagnosa ini dengan etiologi insisi bedah karena pasien mengeluh kesakitan pada luka operasi saat bergerak dan batuk
3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
Penulis mengangkat diagnosa ini karena pasien telah puasa selama tiga hari post operasi, hal tersebut dilakukan karena usus belum bekerja dengan baik. Selain itu pasien mengeluh tenggorokannya kering. Tampak membrane mukosa tampak kering.

4. Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif
Pada diagnosa ini diangkat karena adanya tindakan invasif pada pasien seperti pemasangan NGT, Infus dan chateter. Alat medik tersebut dapat menjadi jalan masuknya bakteri atau mikroorganisme ke dalam tubuh untuk menginfeksi. Selain itu adanya tindakan pembedahan yang dilakukan pada pasien yang menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan sehingga memungkinkan pula mikroorganisme masuk dan berkembang biak dalam tubuh.
5. Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan.
Pada diagnosa ini penulis mengangkatnya karena tampak terpasang alat medik seperti NGT, Infus, Chateter dan terdapat luka akibat pembedahan. Hal tersebut dapat mempengaruhi atau membatasi mobilitas dari pasien.
Sedangkan dalam teori terdapat empat diagnosa keperawatan yaitu seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

C. Perencanaan
Pada tinjauan teori tidak mencantumkan kriteria waktu seperti pada kasus nyata. Pada tinjauan kasus tindakan yang dilakukan pada pasien mengacu pada teori yang disesuaikan dengan kondisi yang ada dalam masalah pasien dengan mencantumkan kriteria waktu, intervensi pada tinjauan teori dilaksanakan tetapi tetap disesuaikan dengan kondisi si rumah sakit. Hal ini di dukung oleh sikap kooperatif dari pasien dan keluarga dan bantuan dari patugas kesehatan khususnya di ruang perawatan Maria Rumah Sakit Fatiam Parepare.

D. Implementasi
Pada tahap ini, penulis melaksanakan apa yang telah direncanakan pada perencanaan dengan bekerja sama dengan pasien, keluarga pasien dan tim kesehatan lainnya. Implementasi yang dilakukan adalah mengatasi masalah :
1. Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
Diagnosa pertama diatasi dengan menjelaskan prosedur tindakan medik dan operasi yang akan dilakukan dan membri kesempatan pada pasien untuk mengngungkapkan keluhan dan masalah yang dialami.
2. Nyeri b/d insisi bedah
Diatasi dengan memberikan obat injeksi Remopain 1 ampul / 8 jam / drips, memberikan posisi yang nyaman atau posisi semi fowler,mengajarkan teknik relaksasi pada pasien seperti tarik napas dalambila nyeri timbul.
3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
Diatasi dengan pemberian cairan infus RL 28 tetes/menit dan mengukur untake dan output pasien secara akurat.
4. Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif
Memberikan kompres alkohol 25% bila pasien panas, obat injeksi antibiotic stabactam 1 gram / 12 jam / IV dan merawat luka serta mengganti verban dengan teknik steril.
5. Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan
Diatasi dengan menganjurkan pasien mobilisasi aktif, membantu pasien mobilisasi, memberikan talk pada saat selesai memandikan untuk mencegah iritasi pada kulit.
Dari implementasi yang dilakukan ada beberapa intervensi yang telah dicantumkan namun tidak dilakukan atau diberika pada pasien.

E. Evaluasi
Proses keperawtan yang terakhir yaitu evaluasi. Dimana pada tahap ini yang akan dibahas atau menilai proses keperawatan yang diberikan dan hasilnya selama kurang lebih tiga hari perawatan. Diagnosa keperawatan yang terdiri dari :
1. Ansietas b/d ketidak adekuatan metode koping
Diagnosa keperawatan ini selama tiga hari perawatan mulai teratasi pada hari ketiga, dimana ekspresi wajah mulai rileks.
2. Nyeri b/d insisi bedah
Diagnosa ini mulai teratasi pada hari ketiga selama tiga hari perawatan karena keluhan nyeri pada luka operasi mulai berkurang.
3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
Intervensi pada diagnosa ini tetap dipertahankan karena tidak ditemukan adanya tanda – tanda dehidrasi berat.
4. Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif
Intervensi pada diagnosa ini tetap dipertahankan karena tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi.
5. Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan
Diagnosa keperawatan ini mulai teratasi, karena pasien mulai mobilisasi (duduk).

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
BAB I : Pada umumnya pasien dengan hernia lebih banyak terjadi pada pria. Hal tersebut dapat dihubungkan dengan kehidupan ekonomi manusia yang semakin berat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana menuntut manusian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut dapat menimbulkan kelelahan dan kelemahan dari berbagai organ tubuh sehingga dapat menimbulkan terjadinya hernia. Insiden terjadinya hernia di Indonesia tahun 2007 sekitar 60% hernia terjadi sebelah kanan dan 30% sebelah kiri, 10% kedua sisi. Khususnya di Rumah Sakit Fatima Parepare, jumlah kasus hernia pada tahun 2007 terdapat 22 kasus hernia, tahun 2008 sebanyak 28 kasus dan tahun 2009 dalam satu semester terdapat empat kasus hernia. Dari jumlah kasus hernia yang terjadi pada pria sebanyak 45 kasus dan 10 kasus hernia pada wanita.
BAB II : Hernia adalah keluarnya isi rongga perut / abdomen yang lewat suatu cela pada dinding yang mengelilinginya (Khaidir, 2009). Penyebab hernia dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu akibat dari kelainan kongenital atau kelemahan dinding abdomen dan akibat dari yang mengalami kelebihan berat badan, batuk, mengejan saat defekasi. Pengobatan berbagai keadaan di atas dapat mengurangi risiko terjadinya hernia.
BAB III : Dalam pengkajian terhadap pasien, penulis memperoleh data dari pasien, keluarga pasien dan catatan medik pasien. Dari hasil pengkajian diperoleh data bahwa pasien masuk dengan keluhan adanya benjolan pada scrotum bagian kanan dan terasa nyeri. Data yang diperoleh memunculkan lima diagnosa keperawatan baik pre operasi maupun post operasi yaitu : Ansietas, Nyeri, Risiko kekurangan volume cairan, Risiko tinggi infeksi, Kerusakan mobilitas fisik. Proses keperawatan pada pasien dilakukan dengan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual dalam penerapan sesuai dengan pendekatan proses keperawatan.
BAB IV :Dalam perencanaan penulis melibatkan pasien dan keluarga pasien, dalam melaksanakan intervensi didasarkan pada perencanaan yang telah disusun berdasarkan kebutuhan. Dalam pelaksanaan intervensi melibatkan pasien dan keluarga pasien. Dalam evaluasi keperawatan selama tiga hari, beberapa masalah mulai teratasi yaitu pada diagnosa keperawatan I, II dan V, sedangkan diagnosa keperawatan III dan IV tidak terjadi.

B. Saran
Dengan melihat kesimpulan di atas, maka penulis mengajukan saran yang dianggap perlu terhadap permasalahan ini yaitu :
1. Rumah Sakit Fatima Parepare
Bagi tenaga keperawatan di Rumah Sakit Fatima Parepare hendaknya sedapat mungkin meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien khususnya dengan hernia scrotalis yang komperensif dan berkesinambungan dan lebih memperhatikan hal – hal yang bersifat subjektif dan objektif agar pasien dan keluarga merasa diperhatikan oleh perawatan dan merasa tidak diabaikan.
2. Institusi
Hendaknya meningkatkan bimbingan pada mahasiswa tentang asuhan keperawatan dan memberika format – format pengkajian yang terbaru yang digunakan dalam membuat rencana asuhan keperawatan.
3. Mahasiswa/ Mahasiswi Akademi Keperawatan Fatiam Parepare
Sebaiknya meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan secara holistic pada pasien.
4. Pasien, Keluarga Pasien dan Masyarakat
Diharapkan untuk lebih memahami tentang gambaran penyakit hernia dan dapat menghindari faktor penyebab dan risiko terjadinya hernia misalnya ; mengejan saat defekasi, mengangkat benda – benda yang berat dan lain – lain.


BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini, penulis akan membahas tentang persamaan dan perbedaan yang muncul antara tinjauan teori dan tinjauan kasus pada asuhan keperawatan yang langsung pada pasien.
Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya, penulis telah menguraikan konsep dasar dan pendekatan asuhan keperawatan yang terbagi dalam lima tahap yaitu : Pengkajian, Diagosa Keperawatan, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.
Setelah melakukan pengamatan kasus serta memberi asuhan keperawatan pada Tn.”M” yang dirawat di runag perawatan Maria Rumah Sakit Fatima Parepare dengan kasus hernia scrotalis lalu dibandingkan dengan teori yang di dapat di bangku kuliah apakah terdapat kesamaan atau tidak.
F. Pengkajian
Pada pengkajian tinjauan teori, tanda dan gejala hernia berupa benjolan di lipat paha, benjolan tersebut bias mengecil dan menghilang pada saat istirahat, bila menangis, mengejan dan batuk. Bila terjadai komplikasi dapat ditemukan nyeri. Sedangkan pada kasus yang diambil juga muncul gejala tersebut dan ditemukan tanda dan gejala berupa perut kembung dan demam pada kasus nyata. Namun dalam teiro perut kembung bias terjadi akibat penyumbatan dan perdarahan sedangkan demam bias terjadi akibat isi perut terjepit.
Pada pembahasan pengkajian ini dapat disimpulkan bahwa pada teori dan kasus nyata dapat ditemukan kesamaan dimana teori yang ada dari berbagai macam literatur sama dengan tanda dan gejala pada pasien Tn.”M”, meskipun ada beberapa gejala lain yang menyertai namun merupakan salah satu tanda dari peroses penyakit tersebut dalam menimbulkan komplikasi.
G. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada tinjauan teori pasien hernia adalah :
1. Nyeri akut / kronis b/d agen pencedera fisik : kompresi saraf, spasme otot.
2. Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri, ketidaknyamanan
3. Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan tindakan b/d tidak mengenal sumber – sumber informasi.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang di dapat pada tinjauan kasus sebagai berikut :
5. Pre Operasi
c). Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
6. Post Operasi
a). Nyeri b/d insisi bedah
b). Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
c). Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif
d). Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan
Berdasarkan diagnosa keperawtan yang diatas terdapat adanya kesenjangan antara diagnosa pada teori dengan diagnosa keperawatan pada kaus nyata :
1. Ansietas b/d ketidak adekuatan metode koping
Pada diagnosa ini, penulis mengangkatnay karena pada saat anamnese dan kontak langsung dengan pasien, tampak ekspresi wajah yang tegang, pucat, pandangan mata ke mana – mana dan adanya kecemasan pasien yang diungkapkan baik pada saat pre operasi maupun pada saat post operasi.
2. Nyeri b/d insisi bedah
Perbedaan etiologi diagnosa nyeri pada kasus nyata denga teori, dimana pada diagnosa keperawatan pada pasien, penulis mengangkat Nyeri b/d insisi bedah. Penulis mengangkat diagnosa ini dengan etiologi insisi bedah karena pasien mengeluh kesakitan pada luka operasi saat bergerak dan batuk
3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
Penulis mengangkat diagnosa ini karena pasien telah puasa selama tiga hari post operasi, hal tersebut dilakukan karena usus belum bekerja dengan baik. Selain itu pasien mengeluh tenggorokannya kering. Tampak membran mukosa tampak kering.
4. Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif
Pada diagnosa ini diangkat karena adanya tindakan invasif pada pasien seperti pemasangan NGT, Infus dan chateter. Alat medik tersebut dapat menjadi jalan masuknya bakteri atau mikroorganisme ke dalam tubuh untuk menginfeksi. Selain itu adanya tindakan pembedahan yang dilakukan pada pasien yang menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan sehingga memungkinkan pula mikroorganisme masuk dan berkembang biak dalam tubuh.
5. Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan.
Pada diagnosa ini penulis mengangkatnya karena tampak terpasang alat medik seperti NGT, Infus, Chateter dan terdapat luka akibat pembedahan. Hal tersebut dapat mempengaruhi atau membatasi mobilitas dari pasien.
H. Perencanaan
Pada tinjauan teori tidak mencantumkan criteria waktu seperti pada kasus nyata. Pada tinjauan kasus tindakan yang dilakukan pada pasien mengacu pada teori yang di sesuaikan dengan kondisi yang ada dalam masalah pasien dengan mencantumkan kriteria waktu, intervensi pada tinjauan teori dilaksanakan tetapi tetap disesuaikan dengan kondisi si rumah sakit. Hal ini di dukung oleh sikap kooperatif dari pasien dan keluarga dan bantuan dari patugas kesehatan khususnya di ruang perawatan Maria Rumah Sakit Fatiam Parepare.



I. Implementasi
Pada tahap ini, penulis melaksanakan apa yang telah direncanakan pada perencanaan dengan bekerja sama dengan pasien, keluarga pasien dan tim kesehatan lainnya. Implementasi yang dilakukan adalah mengatasi masalah :
1. Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
Diagnosa pertama diatasi dengan menjelaskan prosedur tindakan medik dan operasi yang akan dilakukan dan membri kesempatan pada pasien untuk mengngungkapkan keluhan dan masalah yang dialami.
2. Nyeri b/d insisi bedah
Diatasi dengan memberikan obat injeksi Remopain 1 ampul / 8 jam / drips, memberikan posisi yang nyaman atau posisi semi fowler,mengajarkan teknik relaksasi pada pasien seperti tarik napas dalambila nyeri timbul.
3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
Diatasi dengan pemberian cairan infus RL 28 tetes/menit dan mengukur intake dan output pasien secara akurat.
4. Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif
Memberikan kompres alcohol 25% bila pasien panas, obat injeksi antibiotik stabactam 1 gram / 12 jam / IV dan merawat luka serta mengganti verban dengan teknik steril.
5. Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan
Diatasi dengan menganjurkan pasien mobilisasi aktif, membantu pasien mobilisasi, memberikan talk pada saat selesai memandikan untuk mencegah iritasi pada kulit.
Dari implementasi yang dilakukan ada beberapa intervensi yang telah dicantumkan namun tidak dilakukan atau diberika pada pasien.
J. Evaluasi
Proses keperawtan yang terakhir yaitu evaluasi. Dimana pada tahap ini yang akan dibahas atau menilai proses keperawatan yang diberikan dan hasilnya selama kurang lebih tiga hari perawatan. Diagnosa keperawatan yang terdiri dari :
1. Ansietas b/d ketidakadekuatan metode koping
Diagnosa keperawatan ini selama tiga hari perawatan mulai teratasi pada hari ketiga, dimana ekspresi wajah mulai rileks.
2. Nyeri b/d insisi bedah
Diagnosa ini mulai teratasi pada hari ketiga selama tiga hari perawatan karena keluhan nyeri pada luka operasi mulai berkurang.
3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukan cairan secara oral
Intervensi pada diagnosa ini tetap dipertahankan karena tidak ditemukan adanya tanda – tanda dehidrasi berat.
4. Resiko tinggi infeksi b/d tindakan invasif
Intervensi pada diagnosa ini tetap dipertahankan karena tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi.
5. Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidaknyamanan
Diagnosa keperawatan ini mulai teratasi, karena pasien mulai mobilisasi (duduk).


BAB V
PENUTUP

C. Kesimpulan
BAB I : Pada umumnya pasien dengan hernia lebih banyak terjadi pada pria. Hal tersebut dapat dihubungkan dengan kehidupan ekonomi manusia yang semakin berat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana menuntut manusian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut dapat menimbulkan kelelahan dan kelemahan dari berbagai organ tubuh sehingga dapat menimbulkan terjadinya hernia. Insiden terjadinya hernia di Indonesia tahun 2007 sekitar 60% hernia terjadi sebelah kanan dan 30% sebelah kiri, 10% kedua sisi. Khususnya di Rumah Sakit Fatima Parepare, jumlah kasus hernia pada tahun 2007 terdapat 22 kasus hernia, tahun 2008 sebanyak 28 kasus dan tahun 2009 dalam satu smesterterdapat empat kasus hernia. Dari jumlah kasus hernia yang terjadi pada pria sebanyak 45 kasus dan 10 kasus hernia pada wanita.
BAB II : Hernia adalah keluarnya isis rongga perut / abdomen yang lewat suatu cela pada dinding yang mengelilinginya (Khaidir, 2009). Penyebab hernia dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu akibat dari kelainan kogenital atau kelemahan dinding abdomen dan akibat dari yang mengalami kelebihan berat badan, batuk, mengejan saat defekasi. Pengobatan berbagai keadaan di atas dapat mengurangi risiko terjadinya hernia.
BAB III : Dalam pengkajian terhadap pasien, penulis memperoleh data dari pasien, keluarga pasien dan catatan medik pasien. Dari hasil pengkajian diperoleh data bahwa pasien masuk dengan keluhan adanya benjolan pada scrotum bagian kanan dan terasa nyeri. Data yang diperoleh memunculkan lima diagnosa keperawatan baik pre operasi maupun post operasi yaitu : Ansietas, Nyeri, Risiko kekurangan volume cairan, Risiko tinggi infeksi, Kerusakan mobilitas fisik. Proses keperawatan pada pasien dilakukan dengan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual dalam penerapan sesuai dengan pendekatan proses keperawatan.
BAB IV :Dalam perencanaan penulis melibatkan pasien dan keluarga pasien, dalam melaksanakan intervensi didasarkan pada perencanaan yang telah disusun berdasarkan kebutuhan. Dalam pelaksanaan intervensi melibatkan pasien dan keluarga pasien. Dalam evaluasi keperawatan selama tiga hari, beberapa masalah mulai teratasi yaitu pada diagnosa keperawatan I, II dan V, sedangkan diagnosa keperawatan III dan IV tidak terjadi.

D. Saran
Dengan melihat kesimpulan di atas, maka penulis mengajukan saran yang dianggap perlu terhadap permasalahan ini yaitu :
1. Rumah Sakit Fatima Parepare
Bagi tenaga keperawatan di Rumah Sakit Fatima Parepare hendaknya sedapat mungkin meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien khususnya dengan hernia scrotalis yang komperensif dan berkesinambungan dan lebih memperhatikan hal – hal yang bersifat subjektif dan objektif agar pasien dan keluarga merasa diperhatikan oleh perawatan dan merasa tidak diabaikan.
2. Institusi
Hendaknya meningkatkan bimbingan pada mahasiswa tentang asuhan keperawatan dan memberika format – format pengkajian yang terbaru yang digunakan dalam membuat rencana asuhan keperawatan.
3. Mahasiswa/ Mahasiswi Akademi Keperawatan Fatiam Parepare
Sebaiknya meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan secara holistik pada pasien.
4. Pasien, Keluarga Pasien dan Masyarakat
Diharapkan untuk lebih memahami tentang gambaran penyakit hernia dan dapat menghindari faktor penyebab dan risiko terjadinya hernia misalnya ; mengejan saat defekasi, mengangkat benda – benda yang berat dan lain – lain.


Lampiran
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan : Hernia
Sub pokok bahasan : Gambaran umum hernia scrotalis.
Sasaran : Pasien dan keluarga
Tujuan umum : Pasien dan keluarga mengetahui gambaran secara umum mengenai penyakit hernia.
Tujuan khusus : setelah memperoleh penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga memahami tentang :
- Pengertian hernia
- Penyebab hernia / factor risiko hernia
- Tanda dan gejala hernia.
- Komplikasi hernia
- Usaha pengobatan dan pencegahan hernia
Hari / tanggal : Kamis, 23 Juli 2009
Waktu : Pukul 11.00 WITA
Tempat : Ruang Perawatan Maria Kamar I2 Rumah Sakit Fatima Parepare
Materi : Hernia Scrotalis

1. Definisi
Hernia adalah tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dinding rongga diamana rongga tersebut harusnya berada di dalam keadaan normal tertutup (Nanda, 2009).
2. Penyebab / factor risiko :
a. Batuk menahun
b. Mengejan saat defekasi
c. Kebiasaan mengangkat benda berat
d. Kehamilan
e. Obesitas
3. Gejala
Biasanya ditandai dengan adanya benjolan pada skrotum tanpa atau disertai rasa nyeri. Benjolan bisa membesar dan mengecil jika penderita berbaring, benjolan akan mengecil karena isinya keluar dan masuk di bawah pengaruh gaya gravitasi.
4. Komplikasi
a. Peritonotis
b. Shock
c. Abses
d. Perforasi


5. Pengobatan dan pencegahan.
a. Pengobatan
Hernia sering kali dapat didorong kembali ke dalam rongga perut, tetapi jika tidak dapat didorong kembali melalui dinding perut, maka usus biasa terperangkap didalam kanalis dan aliran darahnya terputus. Jika tidak ditangani, bagian usus yang mengalami strangulasi biasa mati karena kekurangan darah. Biasanya dilakukan pembedahan untuk pengambilan usus ke tempat asalnya dan untuk menutup lubang pada dinding perut agar hernia tidak berulang. Obat-obatan biasanya diberikan untuk mengatasi nyeri setelah penderita menjalani pembedahan. Kadang setelah menjalani pembedahan, penderita dianjurkan untuk memakai korset untuk menyokong otot yang lemah selama masa pemulihan.
b. Pencegahan
1). Menghindari mengangkat benda-benda berat
2). Makan makanan yang berserat untuk mengurangi risiko konstipasi
3). Mengurangi risiko batuk menahun dengan melakukan pengobatan secara teratur.
Evaluasi :
Setelah melakukan penyuluhan, pasien dan keluarga dapat dapat memahami materi yang diberikan penulis. pasien dan keluarga cukup memperhatikan materi yang diberikan oleh penulis , mereka berterima kasih atas infomasi yang diberikan oleh penulis.
DAFTAR PUSTAKA


Ajar. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta. EGC. 2001.

Bunner dan sundart Medical Bedah, e. Keperawatan disi 8. Jakarta. EGC. 2000.

Doenges, Marynne.E. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3. Jakarta.EGC. 2006.

Mansjoer. Kapita Selecta Kedokteran, edisi 3. Jakarta. Media Aesclpius. 2000.

Tambayong, jan. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta. EGC. 2000.

http:// Medicarefore.com/med/detail.pyk.pkp!.id

http:// Medinux. Biogspot. Com/2008/12/ Tumor testis. Html.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda, masukan buat kami