Minggu, 20 Maret 2011

Gaya Kepemimpinan - Manajemen Kesehatan

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah, rahmat dan hidayah-Nya jualah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah ditentukan dan dalam bentuk yang sederhana.
Walaupun dalam penyusunan makalah ini kami menemui banyak kendala yang dihadapi, namun bekat dukungan dan motivasi dari semua pihak sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul : “Gaya Kepemmpinan” yang merupakan tugas mandiri dari guru pemimbing mata kuliah “Manajemen Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nani Hasanuddin Makassar, Program Studi S1 Keperawatan Program B (Non-Reguler).
Tidak dapat dipungkiri bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat memangun dari pembaca dengan senang hati kami terima. Akhir kata, semoga segala bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada kami merupakan amal baik di hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dijadikan seagai salah satu pedoman bagi pembaca dalam meningkatkan pemahaman dalam bidang “Organisasi” pada umumnya dan “Kepemimpinan” pada khususnya.
Akhirnya kami memohon kepada Tuhan Yag Maha Esa semoga apa yang kita dapatkan bernilai ibadah disisi-Nya.
Makassar, 8 November 2010
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Batasan Masalah 4
BAB II PPEMBAHASAN
A. Definisi 5
B. Teori Kepemimpinan 6
C. Macam Gaya Kepemimpinan 14
D. Tipologi Kepemimpinan 22
E. Peran – Peran Pemimpin 26
F. Pemimpin Yang Efektif Pada Era Globalisasi 29
G. Perkembangan Tentang Kepemimpinan 31
H. Aplikasi Kepemimpinan Dalam Organisasi 33
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 37
B. Saran 38
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu: pemimpin sebagai subjek, dan.yang dipimpin sebagai objek.
Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.
Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa.
Pemimpin mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian sendiri yang khas, sehingga tingkah laku dan gayanya berbeda dari orang lain.
Studi - studi mengenai sifat – sifat / cirri - ciri mula - mula mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik - karakteristik fisik, ciri kepribadian, dan kemampuan orang yang dipercaya sebagai pemimpin alami. Ratusan studi tentang sifat / ciri telah dilakukan, namun sifat-sifat / ciri-ciri tersebut tidak memiliki hubungan yang kuat dan konsisten dengan keberhasilan kepemimpinan seseorang. Penelitian mengenai sifat / ciri tidak memperhatikan pertanyaan tentang bagaimana sifat / ciri itu berinteraksi sebagai suatu integrator dari kepribadian dan perilaku atau bagaimana situasi menentukan relevansi dari berbagai sifat / ciri dan kemampuan bagi keberhasilan seorang pemimpin. Berbagai pendapat tentang sifat – sifat / cirri - ciri ideal bagi seorang pemimpin telah dibahas dalam kegiatan belajar ini termasuk tinjauan terhadap beberapa sifat / ciri yang ideal tersebut.
Leader Participation Model menggambarkan bagaimana perilaku pemimpin dalam proses pengambilan keputusan dikaitkan dengan variabel situasi. Model ini menganalisis berbagai jenis situasi yang mungkin dihadapi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Penekanannya pada perilaku kepemimpinan seseorang yang bersifat fleksibel sesuai dengan keadaan yang dihadapinya.
Perubahan lingkungan dan pergeseran budaya telah mempengaruhi dinamika kepemimpinan perempuan. Pada umumnya pemimpin perempuan cenderung diberikan porsi pada organisasi perempuan dan sosial. Namun dengan adanya globalisasi telah merubah paradigma kepemimpinan ke arah pertimbangan core competence yang dapat berdaya saing di pasar global oleh sebab itu banyak organisasi berkaliber dunia yang memberikan kesempatan bagi perempuan yang mampu dan memenuhi persyaratan kepemimpinan sesuai situasi dan kondisi sekarang ini. Hambatan bagi kepemimpinan perempuan lebih banyak akibat adanya stereotipe negatif tentang kepemimpinan perempuan serta dari mental (perempuan) yang bersangkutan. Stereotipe-stereotipe tersebut muncul sebagai akibat dari pemikiran individu dan kolektif yang berasal dari latar belakang sosial budaya dan karakteristik pemahaman masyarakat terhadap gender serta tingkat pembangunan suatu negara atau wilayah. Untuk menduduki posisi kepemimpinan dalan organisasi di era global, perempuan perlu meningkatkan ESQ dan memperkaya karakteristik kepemimpinannya dengan komponen - komponen, antara lain pembangunan mental, ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial serta menutupi agresivitasnya menjadi ketegasan sikap, inisiatif, dan percaya diri akan kompetensinya.
Secara universal relatif sama yaitu setiap pemimpin diharapkan mampu proaktif dan tidak otoriter. Di samping itu, terdapat pula beberapa variasi sikap dan perilaku pemimpin di dalam kelompok budaya dan di dalam Negara pada berbagai budaya atau Negara. Demikian pula terdapat perbedaan sikap dan perilaku pemimpin pada Negara - Negara yang menganut system nilai berbeda.
Pada era globalisasi, banyak terjadi perubahan dalam segala sendi kehidupan masyarakat, terutama yang berhubungan dengan bidang ekonomi perdagangan, industri, telekomunikasi dan informasi. Dalam masa post modernism yang sekarang sedang kita jalani, perubahan paradigma manajemen turut bergerak secara dinamis, dari paradigma manajemen klasik hingga paradigma post modernis yang salah satunya diwakili oleh learning organization dengan pengukuran kinerja balanced score card yang memperhitungkan pula keterkaitan dengan lingkungan luar organisasi.

B. Batasan Masalah
Pada kesempatan ini penulis hanya membatasi masalah yang dibahas dalam makalah ini yaitu membahas tentang :
1. Bagaimana Gaya kepemimpinan pada tempat kerja?
2. Bagaimana ciri – ciri kepemimpinan tersebut?
















BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Kepeimpinan disefinisikan oleh para pemikir sebagai berikut :
1. Menurut stoner kepemimpinan adalah sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas.
Ada tiga implikasi penting dalam kepemimpian yaitu seagai berikut :
a. Kepemimpinan melibatkan orang lain (bawahan atau pengikut), kwalitas seorang pemimpin ditentukan oleh bawahan dalam menerima pengarahan dari pemimpin.
b. Kepemimpinan merupakan pembagian yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa dari kegiatan anggota kelompok dan sebaliknya anggota kelompok atau bawahan secara tidak langsung mengarahkan kegiatan pimpinan.
c. Kepemimpinan disamping dapat mempengaruhi bawahan juga mempunyai pengaruh. Dengan kata lain seorang pimpinan tidak dapat mengatakan kepada bawahan apa yang harus dikerjakan tapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintah pemimpin.
2. Inu Kencana, 2003 Secara etimologi kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” (lead) berarti bimbing atau tuntun, dengan begitu di dalam terdapat dua pihak yaitu yang dipimpin (rakyat) dan yang memimpin (imam). Setelah ditambah awalan “pe” menjadi “pemimpin” (leader) berarti orang yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan kominikasi sehingga orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Dan setelah ditambah akhiran “an” menjadi “pimpinan” artinya orang yang mengepalai. Apabila dilrengkapi dengan awalan “ke” menjadi “kepemimpinan” (leadership) berarti kemampuan dan kepribadian seseorang dalam mempengaruhi serta membujuk pihak lain agar melakuakan tindakan pencapaian tujuan bersama, sehingga dengan demikian yang bersangkutan menjadi awal struktur dan pusat proses kelompok.
3. Miftah mendefinisikan kepemimpinan sebagai aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.
4. Nawawi dan M. Martin mengartikan kepemimpinan sebagai kemampuan menggerakkan atau memotivasi sejumlah orang agar secara serentak melakukan kegiatan yang sama dan terarah pada pencapaian tujuannya.

B. Teori Kepemimpinan
1. Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sekarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.
2. Hersey menambahkan bahwa leadership adalah usaha untuk mempengaruhi individual lain atau kelompok. Seorang pemimpin harus memadukan unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.
3. Genetic Theory
Pemimpin adalah dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari orang tuanya.
4. Traits theory.
Teori ini menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter pemimpinnya. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik, dan kemampuan sosial. Karakter yang harus dimiliki seseorang manurut judith R. Gordon mencakup kemampuan istimewa dalam:
 Kemampuan Intelektual
 Kematangan Pribadi
 Pendidikan
 Statuts Sosial Ekonomi
 Human Relation
 Motivasi Intrinsik
 Dorongan untuk maju
5. Ronggowarsito menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki astabrata, yakni delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah, api, angin, angkasa, bulan, matahari, bintang.

6. Behavioral Theory
Karena ketyerbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui trait, para peneliti mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti perilaku pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Konsepnya beralih dari siapa yang memiliki memimpin ke bagaimana perilaku seorang untuk memimpin secara efektif.
7. Authoritarian, Democratic & Laissez Faire
Penelitian ini dilakukan oleh Lewin, White & Lippit pada tahun 1930 an. Mereka mengemukakan 3 tipe perilaku pemimpin, yaitu authoritarian yang menerapkan kepemimpinan otoriter, democratic yang mengikut sertakan bawahannya dan Laissez - Faire yang menyerahkan kekuasaannya pada bawahannya.
8. Continuum of Leadership behavior.
Robert Tannenbaum dan Warren H Schmidt memperkenalkan continnum of leadership yang menjelaskan pembagian kekuasaan pemimpin dan bawahannya. Continuum membagi 7 daerah mulai dari otoriter sd laissez - faire dengan titik dengan demokratis.
9. Teori Employee Oriented and Task Oriented Leadership - Leadership style matrix.
Konsep ini membahas dua orientasi kepemimpinan yaitu
 Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan dimana perilaku pemimpinnya dalam penyelesaiannya tugasnya memberikan tugas, mengatur pelaksanaan, mengawasi dan mengevaluasi kinerja bawahan sebagai hasil pelaksanaan tugas.
 Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai akan ditandai dengan perilaku pemimpinnya yang memandang penting hubungan baik dan manusiawi dengan bawahannya.
Pembahasan model ini dikembangkan oleh ahli psikologi industri dari Ohio State University dan Universitas of Michigan. Kelompok Ohio mengungkapkan dua dimensi kepemimpinan, yaitu initiating structure yang berorientasi pada tugas dan consideration yang berorientasi pada manusia. Sedangkan kelompok Michigan memakai istilah job - centered dan employee - centered.
10. The Managerial Grid
Teori ini diperkenalkan oleh Robert R.Blake dan Jane Srygley Mouton dengan melakukan adaptasi dan pengembangan data penelitian kelompok Ohio dan Michigan.
Blake & Mouton mengembangkan matriks yang memfokuskan pada penggambaran lima gaya kepemimpinan sesuai denan lokasinya.
Dari teori - teori diatas dapatlah disimpulkan bahwa behavioral theory memiliki karakteristik antara lain:
 Kepemimpinan memiliki paling tidak dua dimensi yang lebih kompleks dibanding teori pendahulunya yaitu genetik dan trait.
 Gaya kepemimpinan lebih fleksibel; pemimpin dapat mengganti atau memodifikasi orientasi tugas atau pada manusianya sesuai kebutuhan.
 Gaya kepemimpinan tidak gifted tetapi dapat dipelajari
 Tidak ada satupun gaya yang paling benar, efektivitas kepemimpinan tergantung pada kebutuhan dan situasi.
 Situational Leadership. Pengembangan teori ini merupakan penyempurnaan dari kelemahan - kelemahan teori yang ada sebelumnya. Dasarnya adalah teori contingensi dimana pemimpin efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkan secara tepat. Empat dimensi situasi secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap kepemimpinan seseorang.
 Kemampuan manajerial : kemampuan ini meliputi kemampuan sosial, pengalaman, motivasi dan penelitian terhadap reward yang disediakan oleh perusahaan.
 Karakteristik pekerjaan : tugas yang penuh tantangan akan membuat seseorang lebih bersemangat, tingkat kerjasama kelompok berpengaruh efektivitas pemimpinnya.
 Karakteristik organisasi : budaya organisasi, kebijakan, birokrasi merupakan faktor yang berpengaruh pada efektivitas pemimpinnya.
 Karakteristik pekerja : kepribadian, kebutuhan, ketrampilan, pengalaman bawahan akan berpengaruh pada gaya memimpinnya.
 Fiedler Contingency model
Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif tergantung pada situasi yang dihadapi dan perubahan gaya bukan merupakan suatu hal yang sulit.
Fiedler memperkenalkan tiga variabel yaitu: task structure : keadaan tugas yang dihadapi apakah structured task atau unstructured task leader member relationship : hubungan antara pimpinan dengan bawahan, apakah kuat (saling percaya, saling menghargai) atau lemah.
 Position power : ukuran aktual seorang pemimpin, ada beberapa power yaitu:
o Legitimate power : adanya kekuatan legal pemimpin.
o Reward power : kekuatan yang berasal imbalan yang diberikan pimpinan.
o Coercive power : kekuatan pemimpin dalam memberikan ancaman.
o Expert power : kekuatan yang muncul karena keahlian pemimpinnya.
o Referent power : kekuatan yang muncul karena bawahan menyukai pemimpinnya.
o Information power : pemimpin mempunyai informasi yang lebih dari bawahannya.
 Model kepemimpinan situasional 'Life Cycle' Harsey & Blanchard mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki pimpinannya.
Ada 4 tingkat kematangan bawahan, yaitu:
1) M 1 : bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan.
2) M 2 : bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bias.
3) M 3 : bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin.
4) M 4 : bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas.
Ada 4 gaya yang efektif untuk diterapkan yaitu:
1) Gaya 1 : telling, pemimpin memberi instruksi dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya.
2) Gaya 2 : selling, pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas.
3) Gaya 3 : participating, pemimpin memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide - ide sebagai dasar pengambilan keputusan.
4) Gaya 4 : delegating, pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya.
Transformational Leadership Robert house menyampaikan teorinya bahwa kepemimpinan yang efektif menggunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas tinggi untuk meningkatkan karismatiknya. Dengan kharismanya pemimpin transformational akan menantang bawahannya untuk melahirkan karya istimewa. Langkah yang dilaksanakan pemimpin ini biasanya membicarakan dengan pengikutnya bagaimana pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya mereka sebagai anggota kelompok, bagaimana istimewanya kelompok yang akan menghasilkan karya luar biasa.
 Teori X Dan Teori Y Dari McGregor
Douglas McGrogor mengemukakan strategi kepemimpinan efektif dengan menggunakan konsep manajemen partisipasi. Konsep ini terkenal karena menggunakan asumsi - asumsi sifat dasar manusia. Pemimpin yang menyukai teori X cenderung menyukai bergaya kepemimpinan otoriter dan sebaiknya seorang pemimpin yang menyukai teori Y lebih cenderung menyukai gaya kepemimpinan demokratik.
 Kisi - Kisi Manajerial Dari Blake Dan Mouton
Dua gaya manajemen ini mendasari dua pendekatan pada manajemen yang efektif. Pada gambar dibawah menunjukkan jaringan (kisi - kisi) dimana pada sumbu horizontal adalah perhatian terhadap produksi-produski sedang pada sumbu vertical adalah perhatian terhadap orang (Karyawan).
 Penelitian Di Universitas Ohio State Dan Michigan
Di universitas Ohio State, para peneliti mencoba mempelajari efektifitas dari perilaku kepemimpinan untuk menentukan mana yang paling efektif dari kedua pendekatan Situasional “Contingency” Pendekatan ini menggambarkan tentang gaya kepemimpian yang tergantung pada faktor situasi, karyawan, tugas, organisasi dan variabel lingkungan lainnya.
 Mary Parker Follectt
Mary Parker Follectt mengatakan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kepemimpinan yaitu:
a. Pemimpin
b. Bawahan
c. Situasi juga pemimpin harus berorientasi pada kelompok.

C. Macam Gaya Kepemimpinan
Tanpa kita sadari bahwa sebetulnya kita masing-masing akan menjadi pemimpin, minimal akan menjadi pemimpin diri kita sendiri. Tapi sebetulnya ada bemacam gaya kepemimpinan menurut pakarnya:
1. Gaya Kepemimpinan Autokratik
Gaya kepemimpinan autokratik dapat diterapkan dalam beberapa situasi. Pemimpin autokratik dibutuhkan bagi staf baru, dalam situasi yang kritis dan tidak ada waktu untuk menentukan keputusan kelompok. Pemimpin autokratik bekerja denga sangat baik pada saat krisis dan dalam situasi genting mereka telah memiliki reputasi untuk mampu menyelesaikan tugas yang sulit. Adapun cirri – cirri dari gaya kepemimpinan ini adalah sebagai berikut :
 Tanpa musyawarah.
 Tidak mau menerima saran dari bawahan.
 Mementingkan diri sendiri dan kelompok.
 Selalu memerintah.
 Memberikan tugas mendadak.
 Cenderung menyukai bawahan yang ABS (asal bapak senang).
 Sikap keras terhadap bawahan.
 Setiap keputusannya tidak dapat dibantah.
 Kekuasaan mutlak di tangan pimpinan.
 Hubungan dengan bawahan kurang serasi.
 Bertindak sewenang – wenang.
 Tanpa kenal ampun atas kesalahan bawahan.
 Kurang mempercayai bawahan.
 Kurang mendorong semangat kerja bawahan.
 Kurang mawas diri.
 Selalu tertutup.
 Suka mengancam.
 Kurang menghiraukan usulan bawahan.
 Ada rasa bangga bila bawahannya takut.
 Tidak suka bawahan pandai dan berkembang.
 Kurang memiliki rasa kekeluargaan.
 Sering marah-marah.
 Senang sanjungan.
Kelebihan model kepemimpinan otoriter ini ada di pencapaian prestasinya. Tidak ada satupun tembok yang mampu menghalangi langkah pemimpin ini. Ketika dia memutuskan suatu tujuan, itu adalah harga mati, tidak ada alasan, yang ada adalah hasil. Bagaimana caranya? Lakukan semua yang bisa! Dunia memang berubah, hanya saja, dia bergerak lebih cepat! Langkah - langkahnya penuh perhitungan dan sistematis.
Dingin dan sedikit kejam adalah kelemahan pemimpin dengan kepribadian merah ini. Mereka sangat mementingkan tujuan sehingga tidak pernah peduli dengan cara. Makan atau dimakan adalah prinsip hidupnya. Nah, disinilah masalahnya. Semua orang adalah musuh, entah itu bawahannya atau rekan kerjanya. Si otoriter ini kadang kala menekan bawahannya supaya tidak menjadi ancaman, entah itu dengan kedisiplinan yang tidak masuk akal atau dengan target yang tak mungkin dicapai.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya seorang pemimpin yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anggota organisasi. Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama. Gaya demokrasi merupakan pendekatan yang berpusat pada orang dimana mengizinkan pekerja lebih mengontrol dan berpartisipasi secara individual dalam pembuatan keputusan. Penekanan gaya ini berada pada pengembangan tim dan keinginan untuk berkolaborasi melalui upaya bersama dari semua anggota tim. Pemimpin demokrasi berfungsi memfasilitasi pencapaian tujuan sambil menekankan nilai dari masing - masing individu. Gaya ini tidak sesuai pada tenaga yang masih baru yang membutuhkan banyak arahan.
Gaya kepeimpinan ini memiliki cirri – cirri seagai berikut :
 Pendapatnya terfokus pada hasil musyawarah.
 Tenggang rasa.
 Memberi kesempatan pengembangan karier bawahan.
 Selalu menerima kritik bawahan.
 Menciptakan suasana kekeluargaan.
 Mengetahui kekurangan dan kelebihan bawahan.
 Komunikatif dengan bawahan.
 Partisipasif dengan bawahan.
 Tanggap terhadap situasi.
 Kurang mementingkan diri sendiri.
 Mawas diri.
 Tidak bersikap menggurui.
 Senang bawahan kreatif.
 Menerima usulan atau pendapat bawahan.
 Lapang dada.
 Terbuka.
 Mendorong bawahan untuk mencapai hasil yang baik.
 Tidak sombong.
 Menghargai pendapat bawahan.
 Mau membimbing bawahan.
 Mau bekerja sama dengan bawahan.
 Tidak mudah putus asa.
 Tujuannya dipahami bawahan.
 Percaya pada bawahan.
 Tidak berjarak dengan bawahan.
 Adil dan bijaksana.
 Suka rapat (musyawarah).
 Mau mendelegasikan tugas kepada bawahan.
 Pemaaf pada bawahan.
 Selalu mendahulukan hal - hal yang penting.
3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Menurut Suyanto (2009), kepemimpinan partisipatif merupakan gabungan antara otokratik dan demokratik. Yaitu pimpinan menyampaikan hasil analisis dari masalah dan mengusulkan tindakannya kepada bawahan. Untuk itu staf diminta untuk saran dan kritik yang selanjutnya keputusan akhir dilakukan bersama - sama. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan selanjutnya menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk memecahkan masalah yang ada.
Adapun ciri – ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah sebagai berikut
 Pemimpin bersikap pasif.
 Semua tugas diberikan kepada bawahan.
 Tidak tegas.
 Kurang memperhatikan kekurangan dan kelebihan bawahan.
 Percaya kepada bawahan.
 Pelaksanaan pekerjaan tidak terkendali.
 Mudah dibohongi bawahan.
 Kurang kreatif.
 Kurang mawas diri.
 Perencanaan dan tujuannya kurang jelas.
 Kurang memberikan dorongan pada bawahan.
 Banyak bawahan merasa dirinya sebagai orang yang berkuasa.
 Kurang punya rasa tanggung jawab.
 Kurang berwibawa.
 Menjunjung tinggi hak asasi.
 Menghargai pendapat bawahan (orang lain).
 Kurang bermusyawarah.

4. Gaya Kepemimpinan Laisses Faire
Kepemimpinan dengan gaya seperti ini seringkali mengacu pada istilah “gaya bebas” atau kepemimpinan permisif. Tipe ini melepaskan sepenuhnya kendali dan memilih untuk menghindari tanggung jawab dengan melimpahkan seluruh pengambilan keputusan pada kelompok. Gaya kepemimpinan laisses faire dapat diartikan sebagai gaya “membiarkan” bawahan melakukan sendiri apa yang ingin dilakukannya. Dalam hal ini, pemimpin melepaskan tanggung jawabnya, meninggalkan bawahan tanpa arah, supervisi atau koordinasi sehingga terpaksa mereka merencanakan, melakukan dan menilai pekerjaan yang menurut mereka tepat.
Ciri – ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah sebagai berikut :
 Supel atau luwes.
 Berwawasan luas
 Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
 Mampu menggerakkan bawahan
 Bersikap keras pada saat-saat tertentu
 Berprinsip dan konsisten terhadap suatu masalah
 Mempunyai tujuan yang jelas
 Bersikap terbuka bila menyangkut bawahan
 Mau membantu memecahkan permasalahan bawahan
 Mengutamakan suasana kekeluargaan
 Berkomunikasi dengan baik
 Mengutamakan produktivitas kerja
 Bertanggung jawab
 Mau memberikan tanggung jawab pada bawahan
 Memberi kesempatan pada bawahan untuk mengutarakan pendapat pada saat-saat tertentu
 Melakukan atau mengutamakan pengawasan melekat
 Mengetahui kelemahan dan kelebihan bawahan
 Mengutamakan kepentingan bersama,
 Bersikap tegas dalam situasi dan kondisi tertentu
 Mau menerima saran dan kritik dari bawahan
Berdasarkan gaya kepemimpinan di atas, telah dijelaskan ciri – ciri dari masing – masing gaya kepemimpinan maka, gaya kepemimpinan yang tepat yang digunakan pada tempat kerja kami, cenderung mengarah pada gaya kepemimpinan otoriter, dimana kebijakan – kebijakan yang berlaku di tempat tersebut bukan di peroleh dari aspirasi anggota organisasi tersebut, melainkan terbentuk dari masalah – masalah yang terjadi di lingkungan organisasi tersebut, sehingga lebih menunjukkan keotoriteran seorang pemimpin yang menjalakan kebijakan bersifat paksaan (otoriter) dimana aturan tersebut adalah harus di patuhi dan bila ada aturan yang terabaikan / dilanggar, tidak ada kebijakan – kebijakan agar bias terbebas dari sanksi atas pelanggaran tersebut. Selain hal tersebut, struktur kepemimpinan dipilih buakn berdasarkan kesepakatan bersama, melainkan dipilih oleh pemimpi walaupun dipilih berdasarkan prestasi kerja namun lebih cenderung mengutamakan pilihan pribadi sang pemimpin.
Namun gaya kepemimpinan ini sangat baik digunakan pada organisasi seperti keperawatan guna meningkatkan mutu dan kwalitas pelayanan pada lembaga yang dinaungi oleh organisasi tersebut, walau sedikit merugikan bagi anggota organisasinya namun sangat baik pegaruhnya terhadap visi dan misi organisasi tersebut.

D. Tipologi Kepemimpinan
Tipologi Kepemimpinan Berdasarkan Kondisi Sosio Psikologis. Kondisi sosio - psikologis adalah semua kondisi eksternal dan internal yang ada pada saat pemunculan seorang pemimpin. Dari sisi kondisi sosio - psikologis pemimpin dapat dikelompokkan menjadi pemimpin kelompok (leaders of crowds), pemimpin siswa / mahasiswa (student leaders), pemimpin publik (public leaders), dan pemimpin perempuan (women leaders). Masing - masing tipe pemimpin tersebut masih bisa dibuat sub - tipenya. Sub - tipe pemimpin kelompok adalah: crowd compeller, crowd exponent, dan crowd representative. Sub-tipe pemimpin siswa/mahasiswa adalah: the explorer president, the take charge president, the organization president, dan the moderators. Sub - tipe pemimpin publik ada beberapa, yaitu:
1. Menurut Pluto: timocratic, plutocratic, dan tyrannical.
2. Menurut Bell, dkk: formal leader, reputational leader, social leader, dan influential leader
3. Menurut J.M. Burns, ada pemimpin legislatif yang : ideologues, tribunes, careerist, dan parliementarians.
4. Menurut Kincheloe, Nabi atau Rasul juga termasuk pemimpin publik, yang memiliki kemampuan yang sangat menonjol yang membedakannya dengan pemimpin bukan Nabi atau Rasul, yaitu dalam hal membangkitkan keyakinan dan rasa hormat pengikutnya untuk dengan sangat antusias mengikuti ajaran yang dibawanya dan meneladani semua sikap dan perilakunya.
Tipe pemimpin yang lain adalah pemimpin perempuan, yang oleh masyarakat dilekati 4 setereotip, yaitu sebagai:
1. Tipologi Kepemimpinan Berdasar Kepribadian
Tipologi kepemimpinan berdasar kepribadian dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu tipologi Myers - Briggs dan tipologi berdasar skala CPI (California Personality Inventory). Myers - Briggs mengelompokkan tipe- tipe kepribadian berdasar konsep psikoanalisa yang dikembangkan oleh Jung yaitu: extrovert - introvert, sensing - intuitive, thinking - feeling, judging - perceiving. Tipe kepribadian ini kemudian dia teliti pada manajer Amerika Serikat dan diperoleh tipe pemimpin berdasar kepribadian sebagai berikut: ISTJ: introvert - sensing - thinking – judging ESTJ: extrovert - sensing - thinking – judging
ENTJ: extrovert - intuitive - thinking – judging
INTJ:introvert - intuitive - thinking – judging
Kemudian dengan menggunakan tipe kepribadian yang disusun berdasar konsep psikoanalisa Jung, Delunas melakukan penelitian terhadap para manajer dan ekesekutif negara bagian, dan mengelompokkan tipe pemimpin berdasar kepribadian sebagai berikut:
 Sensors – perceivers
 Sensors – judgers
 Intuitive – thinkers
 Intuitive – feelers
Tipologi kepribadian yang lain adalah sebagaimana yang disusun dengan menggunakan skala CPI (California Personality Invetory) yang mengelompokkan tipe pemimpin menjadi: leader, innovator, saint, dan artist.
2. Tipologi Kepemimpinan Berdasar Gaya Kepemimpinan
Ada empat kelompok tipologi kepemimpinan yang disusun berdasar gaya kepemimpinan, yaitu tipologi Blake - Mouton, tipologi Reddin, tipologi Bradford - Cohen, dan tipologi Leavitt. Menurut Blake - Mouton tipe pemimpin dapat dibagi ke dalam tipe:
a. Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Ekstrim Rendah, Orientasi Tugasnya Ekstrim Tinggi
b. Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Ekstrim Tinggi, Orientasi Tugasnya Ekstrim Rendah.
c. Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Ekstrim Rendah, Orientasi Tugasnya Ekstrim Rendah.
d. Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Moderat, Orientasi Tugasnya Moderat.
e. Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Ekstrim Tinggi, Orientasi Tugasnya Ekstrim Tinggi.
Kemudian Reddin melakukan pengembangan lanjut atas tipologi ini, dan menemukan tipe pemimpin sebagai berikut: deserter, missionary, compromiser, bureaucrat, benevolent autocrat, developer, dan executive. Sementara Bradford dan Cohen membagi tipe pemimpin menjadi: technician, conductor, dan developer. Tipologi kepemimpinan yang dikembangkan oleh Leavitt membagi tipe pemimpin menjadi: pathfinders, problem solvers, dan implementers.
3. Tipologi Kepemimpinan Berdasar Peran Fungsi dan Perilaku
Tipologi pemimpin berdasar fungsi, peran, dan perilaku pemimpin adalah tipologi pemimpn yang disusun dengan titik tolak interaksi personal yang ada dalam kelompok . Tipe - tipe pemimpin dalam tipologi ini dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe berdasar fungsi, berdasar peran, dan berdasar perilaku yang ditunjukkan oleh pemimpin. Berdasar perilakunya, tipe pemimpin dikelompokkan dalam kelompok tipe pemimpin yang dikemukakan oleh: Cattell dan Stice; S. Levine; Clarke; Komaki, Zlotnik dan Jensen. Berdasar fungsinya, tipe pemimpin dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe pemimpin yang dikemukakan oleh: Bales dan Slater; Roby; Shutz; Cattell; Bowes dan Seashore. Berdasar perannya, tipe pemimpin dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe pemimpin yang dikemukakan oleh : Benne dan Sheats; dan Mintzberg.

E. Peran - Peran Pemimpin
1. The Vision Role
Sebuah visi adalah pernyataan yang secara relatif mendeskripsikan aspirasi atau arahan untuk masa depan organisasi. Dengan kata lain sebuah pernyataan visi harus dapat menarik perhatian tetapi tidak menimbulkan salah pemikiran.
Agar visi sesuai dengan tujuan organisasi di masa mendatang, para pemimpin harus menyusun dan manafsirkan tujuan-tujuan bagi individu dan unit-unit kerja.
Peran Pemimpin dalam Pengendalian dan Hubungan Organisasional
Tindakan manajemen para pemimpin organisasi dalam mengendalikan organisasi meliputi:
a. Mengelola harta milik atau aset organisasi.
b. Mengendalikan kualitas kepemimpinan dan kinerja organisasi.
c. Menumbuhkembangkan serta mengendalikan situasi maupun kondisi kondusif yang berkenaan dengan keberadaan hubungan dalam organisasi.
Dan peran pengendalian serta pemelihara / pengendali hubungan dalam organisasi merupakan pekerjaan kepemimpinan yang berat bagi pemimpin. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan, seni dan keahlian untuk melaksanakan kepemimpinan yang efektif.
Ruang lingkup peran pengendali organiasasi yang melekat pada pemimpin meliputi pengendalian pada perumusan pendefinisian masalah dan pemecahannya, pengendalian pendelegasian wewenang, pengendalian uraian kerja dan manajemen konflik.
Ruang lingkup peran hubungan yang melekat pada pemimpin meliputi peran pemimpin dalam pembentukan dan pembinaan tim-tim kerja; pengelolaan tata kepegawaian yang berguna untuk pencapaian tujuan organisasi; pembukaan, pembinaan dan pengendalian hubungan eksternal dan internal organisasi serta perwakilan bagi organisasinya.
2. Peran Pembangkit Semangat
Salah satu peran kepemimpinan yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah peran membangkitkan semangat kerja. Peran ini dapat dijalankan dengan cara memberikan pujian dan dukungan. Pujian dapat diberikan dalam bentuk penghargaan dan insentif. Penghargaan adalah bentuk pujian yang tidak berbentuk uang, sementara insentif adalah pujian yang berbentuk uang atau benda yang dapat kuantifikasi. Pemberian insentif hendaknya didasarkan pada aturan yang sudah disepakati bersama dan transparan. Insentif akan efektif dalam peningkatan semangat kerja jika diberikan secara tepat, artinya sesuai dengan tingkat kebutuhan karyawan yang diberi insentif, dan disampaikan oleh pimpinan tertinggi dalam organisasi , serta diberikan dalam suatu ‘event’ khusus.
Peran membangkitkan semangat kerja dalam bentuk memberikan dukungan, bisa dilakukan melalui kata-kata , baik langsung maupun tidak langsung, dalam kalimat-kalimat yang sugestif. Dukungan juga dapat diberikan dalam bentuk peningkatan atau penambahan sarana kerja, penambahan staf yag berkualitas, perbaikan lingkungan kerja, dan semacamnya.
3. Peran Menyampaikan Informasi
Informasi merupakan jantung kualitas perusahaan atau organisasi; artinya walaupun produk dan layanan purna jual perusahaan tersebut bagus, tetapi jika komunikasi internal dan eksternalnya tidak bagus, maka perusahaan itu tidak akan bertahan lama karena tidak akan dikenal masyarakat dan koordinasi kerja di dalamnya jelek. Penyampaian atau penyebaran informasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga informasi benar-benar sampai kepada komunikan yang dituju dan memberikan manfaat yang diharapkan. Informasi yang disebarkan harus secara terus-menerus dimonitor agar diketahui dampak internal maupun eksternalnya. Monitoring tidak dapat dilakukan asal-asalan saja, tetapi harus betul-betul dirancang secara efektif dan sistemik. Selain itu, seorang pemimpin juga harus menjalankan peran consulting baik ke ligkungan internal organisasi maupun ke luar organisasi secara baik, sehingga tercipta budaya organisasi yang baik pula. Sebagai orang yang berada di puncak dan dipandang memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding yang dipimpin, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan bimbingan yang tepat dan simpatik kepada bawahannya yang mengalami masalah dalam melaksanakan pekerjaannya.

F. Pemimpin Yang Efektif Pada Era Globalisasi
Fisk Mastal, menemukan beberapa hal yang perlu dimiliki dan diselesaiakan oleh perawat pemimpin (CNO: Chief Nursing Officer) adalah:
1. Leadership (kepemimpinan)
2. Peningkatan Inisiatif Sumber daya, seperti meningkatkan program orientasi, mentoring, dukungan pendidikan berkelanjutan,beasiswa.
3. Staffing, seperti meningkatkan jumlah perawat dibandingkan jumlah pasien.
4. Pendanaan, seperti peningkatan jumlah gaji perawat, gaji diluar shifi, dan kerjasama pendanaan pendidikan ahli.
5. Likngkungan kerja, seperti memperbaiki lingkungan kerja perawat dan menghilangkan pekerjaan diluar pekerjaan perawat.
6. Penjadwalan kerja, seperti penjadwalan kerja yang fleksibel.
Hal diatas menunjukkan kriteria yang harus dihadapi oleh seorang perawat jika ingin menjadi pemimpin yang baik bagi pengikutnya. Dalam sebuah studi pustaka yang dilakukan oleh Dr. Harvath seorang praktisi ahli keperawatan gerontik, seorang professor dan direktur dari school of nursing, Oregon health and science university pada tahun 2007 bersama dengan rekan-rekanya menyatakan bahwa dalam kepemimpinan di masa depan, setiap perawat perlu mendapatkan pelatihan kepemimpinan yang meliputi 4 dimensi yaitu:
1. Interpersonal skill, meliputi komunikasi, motivasi dan inspirasi, resolusi konflik.
2. Clinical skill, meliputi penggunaan aplikasi praktek terbaik, pemahaman riset, dan person-centered care.
3. Organization Skill, meliputi strategic planning and visioning, change theory.
4. Management Skill, meliputi regulatory compliance, financial and budgetary planning, employee supervision and mentoring.
Agustyan (2006), mangatakan Pemimpin sejati adalah seorang yang selalu mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai memiliki intregitas yang kuat, sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya. Selalu membimbing dan mengajari pengikutnya.
Memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten. Dan yang terpenting adalah memimpin berlandaskan suara hati yang fitrah. Sangatlah penting di saat globalisasi memasuki ranah dunia keperawatan lahir pemimpin-pemimpin dari profesi perawat. Para pemimpin inilah yang akan perjuangkan tema-teman sejawat dan seprofesi. Jika pemimpin-pemimpin nasional berasal dari satu profesi maka perjuangan dalam memperbaiki kualitas pelayanan melalui pembentukan kebijakan-kebijakan yang diambil lewat birokrasi nasional akan semakin mudah tercapai. Arus globalisasi tidak akan memberikan kesempatan bagi mereka yang lemah. Termasuk juga profesi - profesi yang lemah yang membutuhkan pengakuan dan dukungan dari para pemimpin nasional. Hal yang disampaikan oleh Agustyan mewakili sifat - sifat pemimpin yang dibutuhkan pada masa globalisasi.

G. Perkembangan Tentang Kepemimpinan
1. Kepemimpinan Perempuan
Perubahan lingkungan dan pergeseran budaya telah mempengaruhi dinamika kepemimpinan perempuan. Pada umumnya pemimpin perempuan cenderung diberikan porsi pada organisasi perempuan dan sosial. Namun dengan adanya globalisasi telah merubah paradigma kepemimpinan ke arah pertimbangan core competence yang dapat berdaya saing di pasar global, oleh sebab itu banyak organisasi berkaliber dunia yang memberikan kesempatan bagi perempuan yang mampu dan memenuhi persyaratan kepemimpinan sesuai situasi dan kondisi sekarang ini.
Hambatan bagi kepemimpinan perempuan lebih banyak akibat adanya stereotipe negatif tentang kepemimpinan perempuan serta dari mental (perempuan) yang bersangkutan. Stereotipe-stereotipe tersebut muncul sebagai akibat dari pemikiran individu dan kolektif yang berasal dari latar belakang sosial budaya dan karakteristik pemahaman masyarakat terhadap gender serta tingkat pembangunan suatu negara atau wilayah.
Dari hasil temuan, ternyata tidak ditemukan adanya perbedaan antara gaya kepemimpinan perempuan dengan laki-laki, walaupun ada sedikit perbedaan potensi kepemimpinan perempuan dan laki-laki, di mana keunggulan dan kelemahan potensi kepemimpinan perempuan dan laki-laki merupakan hal yang saling mengisi. Begitu juga dengan karakteristik kepemimpinan perempuan dan laki-laki dapat disinergikan menjadi kekuatan yang harmonis bagi organisasi yang bersangkutan.
Untuk menduduki posisi kepemimpinan dalan organisasi di era global, perempuan perlu meningkatkan ESQ dan memperkaya karakteristik kepemimpinannya dengan komponen-komponen, antara lain pembangunan mental, ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial serta menutupi agresivitasnya menjadi ketegasan sikap, inisiatif, dan percaya diri akan kompetensinya.
2. Kepemimpinan dalam Beragam Budaya dan Negara
Namun demikian, terdapat dimensi kepemimpinan yang secara universal relatif sama yaitu setiap pemimpin diharapkan mampu proaktif dan tidak otoriter. Di samping itu, terdapat pula beberapa variasi sikap dan perilaku pemimpin di dalam kelompok budaya dan di dalam Negara pada berbagai budaya atau Negara. Demikian pula terdapat perbedaan sikap dan perilaku pemimpin pada Negara- Negara yang menganut system nilai berbeda.
Kepemimpinan Visioner : Seorang pemimpin visioner harus bisa menjadi penentu arah, agen perubahan, juru bicara dan pelatih.
Oleh karena itu seorang pemimpin visioner harus: menyusun arah dan secara personal sepakat untuk menyebarkan kepemimpinan visioner ke seluruh organisasi, memberdayakan para karyawan dalam bertindak untuk mendengar dan mengawasi umpan balik, selalu memfokuskan perhatian dalam membentuk organisasi mencapai potensi terbesarnya.

H. Aplikasi Kepemimpinan Dalam Organisasi
1. Kepemimpinan, Organisasi dan Perubahan Lingkungan
Ada tiga jenis perubahan yaitu :
o Perubahan rutin
o Perubahan pengembangan
o Inovasi.
Mengelola perubahan adalah hal yang sulit. Ukuran kapasitas kepemimpinan seseorang salah satu diantaranya adalah kemampuannya dalam mengelola perubahan. Kemampuan ini penting sebab pada masa kini pemimpin, akan selalu dihadapkan pada perubahan - perubahan, sehingga pemimpin dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan perubahan lingkungan. Pemimpin yang kuat bahkan mampu mempelopori perubahan lingkungan.
Ada empat tahap yang harus dilakukan agar pemimpin dapat mengelola perubahan lingkungan. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi perubahan
b. Menilai posisi organisasi
c. Merencanakan dan melaksanakan perubahan
d. Melakukan evaluasi.
Untuk memperoleh hasil yang diharapkan maka keempat langkah tersebut perlu dilakukan secara berurutan dan berkesinambungan.
 Kepemimpinan dan Budaya Organisasi
Tugas utama seorang pemimpin adalah mengajak orang untuk menyumbangkan bakatnya secara senang hati dan bersemangat untuk kepentingan organisasi. Dengan demikian pemimpin atau manajer harus mengarahkan perilaku para anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat tercapai. Para pemimpin perlu membentuk, mengelola, meningkatkan, dan mengubah budaya kerja organisasi. Untuk melaksanakan tugas tersebut, manajer perlu menggunakan kemampuannya dalam membaca kondisi lingkungan organisasi, menetapkan strategi organisasi, memilih teknologi yang tepat, menetapkan struktur organisasi yang sesuai, sistem imbalan dan hukuman, sistem pengelolaan sumberdaya manusia, sistem dan prosedur kerja, dan komunikasi serta motivasi.
Salah satu cara mengembangkan budaya adalah dengan menetapkan visi yang jelas dan langkah yang strategis, mengembangkan alat ukur kinerja yang jelas, menindaklanjuti tujuan yang telah dicapai, menetapkan sistem imbalan yang adil, menciptakan iklim kerja yang lebih terbuka dan transparan, mengurangi permainan politik dalam organisasi, dan mengembangkan semangat kerja tim melalui pengembangan nilai-nilai inti.
 Kepemimpinan dan Inovasi
Inovasi berbeda dengan kreativitas. Kreativitas lebih berfokus pada penciptaan ide sedangkan inovasi berfokus pada bagaimana mewujudkan ide. Karena inovasi adalah proses mewujudkan ide, maka diperlukan dukungan dari faktor-faktor organisasional dan leaderships.
Dalam membahas inovasi paling tidak ada duabelas tema umum yang berkaitan dengan pembahasan tentang inovasi yaitu kreativitas dan inovasi, karakteristik umum orang-orang kreatif, belajar atau bakat, motivasi, hambatan untuk kreatif dan budaya organisasi, struktur organisasi, struktur kelompok, peranan pengetahuan, kreativitas radikal atau inkrimental, struktur dan tujuan,proses, dan penilaian. Kemampuan organisasi dalam mengelola keduabelas tema tersebut akan menentukan keberhasilannya dalam melakukan inovasi.
Inovasi berkaitan erat dengan proses penciptaan pengetahuan. Proses penciptaan pengetahuan dilakukan dengan melakukan observasi atas kejadian, mengolahnya menjadi data, lalu data dijadikan informasi, dan informasi diberikan konteks sehingga menjadi pengetahuan. Pengetahuan inilah yang oleh pemimpin dijadikan arah atau bekal untuk melakukan inovasi. Organisasi yang mampu secara terus menerus melakukan penciptaan pengetahuan disebut sebagai learning organization.














BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab di atas yang membahas tentang “Kepemimpinan” secara umum dan “Gaya Kepemimpinan” secara khususnya, maka dapat kami simpulkan bahwa : Kepemimpinan didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi, menggerakkan dan mengarahkan suatu tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu yang memiliki susunan dalam organisasi tersebut yang terdiri dari pimpinan dan anggota / awahan.
Sehubungan dengan gaya kepemimpinan, menurut para ahli membagi dalam berbagai gaya kepemimpinan yang diantaranya adalah sebagai erikut :
1. Gaya Kepemimpinan Autokratik
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis
3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif
4. Gaya Kepemimpinan Laisses Faire
Dari keempat gaya kepemimpinan di atas, gaya kepemimpinan yang kami jumpai dalam tempat kerja yaitu gaya kepemimpinan autokratik dimana pemimpinnya bersifat otoriter, untuk mencapai visi dan misi dari organisasi cenderung melaksanakan kebijakan yang bersifat paksaan. Namun hal tersebut juga sangat baik jika diterapkan pada organisasi yang menaungi tempat kerja kami yaitu yang bergerak dalam pelayanan kesehatan, dimana dalam penentuan keputusan harus cepat dan tepat.
B. Saran
Berdasarkan penjelasan mengenai kepemimpinan secara umum, kami selaku penulis menyarankan kepada pembaca agar pemaparan dalam makalah ini dapat digunakan sebagai landasan dalam menjalankan suatu organisasi, dengan melihat sisi kebaikan dan keburukan terutama pada gaya kepemimpinan, seaiknya penerapan gaya kepemimpinan dalam suatu organisasi dilakukan berdasarkan tuntutan organisasi tersebut, serta di sesuaikan dengan keadaan lingkungan organisasi tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

http://all-about-trick.blogspot.com
http://organisasi.org/jenis_dan_macam_gaya_kepemimpinan
http://www.rachmansyah.web.id/blog1.php/2009/06/16/gaya-kepemimpinan
http://www.wawan-junaidi.blogspot.com/.../gaya-kepemimpinan.html
http://www.wapannuri.com/a.kepemimpinan/kepemimpinan_efektif.html
http://community.siutao.com/showthread.php/1684-Leadership-Teori Kepemimpinan
http://www.askep-askeb.cz.cc/2010/02/kepemimpinan-dalam-keperawatan.html
http://www.scribd.com/doc/15885060/Teori-Kepemimpinan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda, masukan buat kami